a)
Lokasi
Pura suranadi
terletak di dusun ( kampong ) suranadi, desa selaparang kecamatan narmada,
kabupaten Lombok barat. Berjarak 15 kilometer dari pusat kota mataram, ibu kota
propinsi nusa tenggara barat. Terletak pada ketinggian 256 meter di atas
permukaan laut.
b)
Ukuran dan Luas
Di Suranadi terdapat
tiga buah bangunan pura, masing-masing di beri nama sesuai dengan fungsi sumber
air yang ada di dalamnya. Lokasi pura, terkait dengan tempat keberadaan sumber
air.Walaupun dari segi rangkaian kegiatan ritual merupakan satu kesatuan, namun
secara fisik terkesan terpisah (terpencar).
Sesuai dengan
orientasi keberadaanya ketiga bangunan tersebut dapat dijelaskan sbb :
1)
Pura
Ulon/Pura Gaduh
Bila lokasi ketiga
pura itu ditarik garis lurus, maka pura Uloh/pura Gaduh terletak di ujung
timur.Berdasarkan topografinya pura ini yang paling tinggi, berbatasan langsung
dengan kawasan hutan lindung pada sisi bagian belakangnya, dan ruas jalan
menuju lapangan golf Golong pada bagian depannya.
2)
Pura
Pengentas
Terletak beberapa
puluh meter dari pura Uloh/Gaduh arah barat daya.Secara fisik, pura ini
merupakan yang terkecil dan paling sederhana di antara ketiga pura yang ada di
Suranadi.Sisi selatan dan timur berbatasan dengan pagar hotel Suranadi.Di
dalamnya terdapat dua sumber air, yaitu “pengentas” dan “toya tabah”.Pagar
keliling pura ini relative baru.
3)
Pura
Pebersihan
Terletak kurang lebih
300 meter dari pura Ulon/pura Gaduh, arah barat daya.Kini banguna pura ini
telah berpagar tembok.Pada sekitar tahun 1976, pagarnya masih berupa pagar
darurat, dengan bamboo.Di dalam pagar juga telah dibangun sarana penunjang
sebagaimana yang terdapat pada Pura Ulon.Di depan pintu halaman pura terdapat
jalan tembus ke utara menuju jalan raya Suranadi.
Ketiga bangunan pura
tersebut merupakan satu kompleks bangunan terbuka, di kelilingi pagar tembok,
denah berbentuk empat persegi panjang.
c)
Fungsi
Pada ketiga pura yang ada di Suranadi ini terdapat lima sumber air yang di
sebut ”petirtan” airnya di anggap ”sakral”, dan dipercaya sebagai syarat
kelengkapan dalam menjalankan upacara keagamaan.Baik untuk keperluan upacara
yang dilakukan sehari-hari, maupun untuk upacara-upacara lain yang bersifat
khusus.
Air dari kelima mata air ini terletak di Pura Suranadi ini dinamakan ”panca
tirta” (lima macam mata ait), yaitu :
a)Toya Tabah
b)Pebersihan
c)Pelukatan
d)Tirta
e)Pengentas
tentang kelima sumber air itu, Ida Made Rai ( 60 tahun ), pemangku
puro ulon menyampaiakn penjelasan sebagai berikut :
“ air seperti yang ada di pura ini adanya hanya di Lombok. Di
tempat lain, di bali misalnya, untuk mencari toya tabah diperlukan persyaratan
khusus. Di sini kita dapat memperolehnya dengan cara yang lebih sederhana.
Banyaknya orang hindhu dari berbagai tempat di luar pulau Lombok yang datang
kemari untuk mengambil air di sini merupakann pembenaran pandangan ini.
Ketenttuan yang harus dipatuhi dalam mengambil air disini ialah
bahwa orang yang keadaanya “ masih kotor “ ialah keluarga dari orang yang
meninggal ( belum diupacarakan ). Mereka hanya boleh sampai dihalaman luar
pura. Untuk mengambil air sebagai syarat kelengkapan upacara, dapat minta
bantuan orang lain yang tidak ada hubungan keluarga dengan orang yang
meninggal.
Di dalam system kepercayaan agama hindu, dikenal dua jenis
upacara, yaitu : upacara hidup ( manusia yadnya ) dan upacara mati ( pitra
yadnya )
Pada “ manusia yadnya “, cukup menggunakan tiga jenis ( tirta )
saja, yaitu : pebersihan, pelukatan dan tirta. Sedangkan untuk “ pitra yadnya
“, kelima jenis air ( panca tirta ) harus digunakan semuanya. Setelah seseorang
meninggal dunia, kemudian diupacarakan dengan jalan jasadnya dibakar. Upacara
ini disebut “ ngaben “. Setelah seluruh jasadnya terbakar ( menjadi abu ),
secara bertahan disiram dengan kelima jenis air itu. Penyiraman pertama dengan
“ toya tabah “, kemudian berturut-turut dengan air “ pebersihan, pelikatan,
tirta dan pengentas.
Sesuai dengan latar sejarahnya, pura suranadi memiliki arti
penting bagi pemeluk agama Hindu Budha secara keseluruhan, tidak hanya bagi
mereka yang bertempat tinggal di pulau Lombok saja. Hal ini dapat dilihat dalam
pelaksanaan upacara pujawali atau upacara ulang tahun memperingati berdirinya
pura ini, yang jatuh pada tanggal lima belas bulan kelima ( purnama sasih
kelima ) menurut perhitungan kalender bali. Menurut tarikh masehi, biasanya
jatuh pada bulan November, bertepatan dengan bulan purnama. Pada upacara ini,
yang datang tidak hanya pemeluk hindhu budha yang ada di Lombok saja, tetapi
juga dari bali.
Pelaksanaan kegiatan ritual keagmaan di pura suranadi, secara gari
besarnya dapat dikemukakan sebagai berikut :
1)
Di Pura
Pebersihan
Pelaku
upacara membersihkan diri dengan cara mandi dengan air di sumber air
“pebersihan” kemudian bersembahyang di pura yang letaknya di dekat sumber air
tersebut.Setelah itu upacara dilanjutkan di Pura Ulon/Gaduh.
2)
Di Pura
Ulon/Pura Gaduh
Didepan
pintu gerbang pura terdapat “air pelukatan” yang digunakan untuk melukat
(dipercikkan) kepada siapa saja yang datang atau hendak masuk pura.Bentuk
upacara di dalam pura ini ialah bersembahyang.Banyak juga orang datang kemari
untuk minta air ( tirta ) saja.Pura Ulon
adalah pura utama di Suranadi.
Pura
pengentas hanya sebagai tempat untuk mengambil air untuk upacara “ pitra yadnya
“ saja, yaitu “ toya tabah “ dan pengentas. Maka dapat dimengerti bila tidak
dibangun sarana penunjang seperti yang ada pada pura yang lain.
Adapun penjelasan lebih rinci dari fungsi Pura Ulon/Pura Gaduh
adalah :
a)
Pada
sudut barat laut terdapat bangunan terbuka yang disebut “bale” digunakan
sebagai tempat beristirahat atau tidur bagi pengunjung yang menginap.
b)
Di
sebelah selatan pintu masuk terdapat bangunan yang disebut “Bale Pewedaan”
tempat pendeta membaca Weda ketika upacara sedang berlangsung.
c)
Pada
bagian tengah halaman terdapat dua buah bangunan terbuka yang menyerupai
“berugaq” yang kedua bangunan ini disebut “Bale Banten” yaitu tempat menyiapkan
banten atau kelengkapan upacara.
d)
Di
sebelah timur Bale Banten terdapat sumber air pelukatan.Disisinya terdapat
tempat menaruh sesaji yang di sebut “persimpangan tirta”.
e)
Pada sisi
sebelah timur,lantai halaman di buat tinggi, tempat bangunan utama di apit
hiasan naga.Di depan naga dibuatkan tempat menaruh sesaji, disebut “plawangan”.
f)
Disebelah
kanan halaman pura, agak ke depan, terdapat sumber air tirta dengan
persimpangan tirta-nya.
g)
Di
sebelah timur sumber air tirta terdapat pohon beringin yang sangat besar dan
dibawahnya terdapat bangunan kecil yang disebut “kemaliq” tempat pemujaan bagi
orang-orang sasak penganut ajaran Waktu Telu.
h)
Di sudut
timur laut terdapat sebuah pura yang disebut Pura Majapahit.Pendirian pura ini
dimaksudkan untuk mengenang para leluhur, bahwa asal usul orang Hindu yang ada
di sini berasal dari Majapahit.
Adapun fungsi dari Pura Pebersihan:
a)
Pintu
gerbang berbentuk “Candi Bentar”.Di depan pintu tidak ada Bale gong.
b)
Di sudut
barat laut dan barat daya terdapat “bale” yang digunakan sebagai tempat
menginap dan beristirahat.
c)
Di tengah
halaman juga terdapat “bale banten” yang ukurannya lebih kecil dibandingkan di
Pura Ulon.
d)
Di sudut
timur laut terdapat bangunan utama pura tempat bersembahyang.
e)
Di
sebelah timur “bale banten” terdapat sumber air “pebersihan”.Tempat membersihkan
diri (secara fisik) dengan jalan mandi sebelum bersembahnyang di pura.
f)
Di
sebelah selatan pura terdapat sebuah bangunan pemujaan yang disebut kemaliq
sama seperti yang ada di Pura Ulon namun ukurannya jauh lebih besar.
g)
Air yang
keluar dari sumber air “pebersihan” di salurkan keselatan.Diluar pagar halaman
pura dibuat kolam untuk pemandian bagi masyarakat setempat, kebanyakan
anak-anak.
d)
Latar
Belakang Sejarah
Telah dijelaskan pada
bagian ini, bahwa keberadaan Pura Suranadi, terkait dengan adanya sumber-sumber
air “tirta” yang sangat penting artinya di dalam pelaksanaan ritual keagamaan (
Hindu ).
Sehubungan dengan hal
itu maka latar belakang sejarah Pura Suranadi merupakan bagian tak terpisahkan
dari sejarah datangnya orang-orang Bali di Lombok dengan maksud untuk menetap.
Tentang masuknya
orang-orang Bali di Lombok ini, Tim Penyusun Masterplan Pemugaran Taman
Narmada,Lombok,1983,mengemukakan adanya kemungkinan bahwa orang-orang Bali
berada di Lombok sejak abad ke 11.Dugaan ini diperkuat dengan di temukannya
prasasti di Pujungan, Tabanan (Bali).Disebutkan juga bahwa kerajaan Gelgel di
Bali pada masa pemerintahan tahan Batu Rengggong tidak hanya memerintah di Bali
tetapi berhasil memperluas kekuasaannya sampai di Sasak (Lombok),Sumbawa,serta
seluruh Blambungan sampai Puger atau Lumajang (Jawa Timur).
Setelah Gelgel mulai lemah
terjadi pergolakan dan kedudukan Gelgel digantikan oleh Klungkung.Selanjutnya
kedudukan Klungkung digantikan oleh Karangasem dan pada saat inilah secara
berangsur-angsur Lombok ditempatkan dibawah kekuasaan kerajaan Karangasem di
Bali.Sejak saat itulah dimulai gelombang perpindahan orang-orang Bali ke
Lombok.
Pada awal kedatangannya
orang-orang Bali di Lombok ikut serta seorang “Pendeta” atau
“Pedende/sulinggih” yakni orang-orang yang sudah menduduki derajat kesucian
menurut agama hindu.Pura Suranadi dibangun pada waktu itu oleh Pendeta Sakti
Bau Rawuh, ada juga yang menyebutnya Danghyang Niratha.Beliau di Lombok hanya
sebentar untuk menjaga agar jangan sampai umat hindu yang ditinggalkan itu
tidak dapat melakukan tertib upacara menurut ajaran agama yang telah
ditentukan, beliau “membuat” lima macam “air suci” (panca tirta).Setelah
berkeliling mencari di tempat yang kini bernama Suranadi itu terdapat lima mata
air dan langsung diberikan “puja mantera” sehingga air yang keluar dari mata
air itu dipandang sebagai air suci, bersifat sacral.
Menurut versi lain,
Suranadi “dibuat” atas inisiatif raja Pagesangan bernama Anak Agung Nyoman
Karang pada tahun 1624 Saka atau 1720 M.Beliau memanggil seorang pendeta dari
Bali bernama Pedande Sakti Abah, cucu Pendeta Dwi Jendra, untuk melaksanakan
“panca yadnya” yaitu lima macam pengorbanan menurut ajaran agama Hindu.Untuk itu
Pedande Sakti Abah memilih tempat yang kemudian disebut Suranadi.
Secara etimologis,
Suranadi berasal dari kata “sura” (dewa) dan “nadi” (sungai).Dalam kamus bahasa
jawa kuno disebutkan bahwa Suranadi juga berarti “Kahyangan”, tempat para dewa
bersemayam.Sampai dengan sekitar tahun 1930, keadaan di sekitar Pura Suranadi
masih merupakan hutan belantara.Atas prakarsa dua orang punggawa saat
itu.Adapun biaya dikeluarkan oleh “Pura Fonds”.Tempat pemujaan di sebelah utara
(Ulon) dan pemujaan di sebelah selatan adalah hasil prakarsa dari kedua
punggawa tersebut.
Pada waktu yang bersamaan
dengan saat usaha itu berjalan seorang employer pada Nederlands Indische Bank
bernama L.Frantzman mendirikan sebuah rumah semi permanen di dataran atas
sebelah selatan Pura Ulon/Gaduh.Kemudian bangunan itu diambil alih oleh
pemerintah dari pemiliknya untuk dijadikan pesanggrahan yang statusnya menjadi
milik daerah itu.
Bangunan pesanggrahan
inilah yang dalam perkembangan selanjutnya sekitar tahun 1932 s.d datangnya
tentara jepang (1942), digunakan sebagai tempat peristirahatan dan tempat
menginap tamu-tamu Belanda.Kini Bangunan itu telah berkembang menjadi sebuah
hotel yaitu Hotel dan Restoran “Suranadi”.
e)
Status
Ditinjau dari
usianya, maupun latar belakang sejarah keberadaanya, ketiga pura yang ada di
suranadi ini termasuk benda cagar budaya sebagaimana dimaksud undang-undang
nomor 5 tahun 1992 tentang benda cagar budaya.
Karena sejak awal dibangunnya sampai dengan
saat sekarang ini secara berkesinambungan digunakan sebagai sarana kegiatan
ritual keagamaan, pura suranadi digolongkan sebagai “ living monument “
Artinya monument yang
masih difungsikan sebagaimana fungsinya semula. Status pemilikan maupun
pengelolaannya tetap ada pada masyarakat pemakainya. Namun hal-hal yang terkait
dengan pemeliharaan, perawatan, mapun pemanfaatannya diatur dalam undang-undang
nomor 5 tahun 1992 tentang benda cagar budaya dan peraturan pemerintah nomor 10
tahun 1993 tentang pelaksanaan undang-undang nomor 5 tahun 1992.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar