Sistem perkawinan yang dianut
oleh suku Sasak lebih mengarah ke sistem indogami. Bahkan di beberapa tempat,
terutama pada masa lampau, sistem indogami dilaksanakan secara ketat yang
kemudian melahirkan kawin paksa dan pengusiran (istilah sasaknya bolang)
terhadap “terutama” anak gadis. Walaupun kecenderungannya Indogami namun sistem
Eksogami tidak diharamkan oleh adat.
Namun perlu dicatat bahwa adat perkawinan suku sasak, kalau boleh saya katakan,
telah mengalami distorsi disana sini. Hal ini akibat serbuan nilai-nilai baru,
baik yang berasal dari agama Islam maupun dari nilai-nilai barat. Walau
demikian adat ini bukan berarti hilang, ia masih bisa ditemukan di
daerah-daerah yang masih kuat menjalankan adat istiadatnya. Sebaliknya di
daerah-daerah yang religius dan modern berlakunya adat itu hanya sekedar
formalitas belaka.
Sebenarnya terdapat tiga sistem perkawinan Adat Sasak, yakni:
1. Perondongan, (2).Mepadik Lamar
(melamar), (3) Merarik atau Selarian (kawin lari)
1. Perondongan (Perjodohan)
Perjodohan merupakan salah satu bentuk perkawinan yang sering dilakukan
oleh masyarakat adat Sasak di masa lampau. Paling tidak ada 3 (tiga) alasan
orang tua melakukan perjodohan pada anak-anak mereka, yakni (1) untuk
memurnikan keturunan dari sebuah keluarga, biasanya keluarga keturunan
bangsawan tidak mau darahnya bercampur dengan darah orang lain yang bukan
bangsawan atau terutama dari status sosialnya lebih rendah, (2)untuk
melanggengkan hubungan persahabatan antar kedua orang tua mempelai, dan yang ke
(3) karena alasan-alasan tertentu, diantaranya adalah akibat
kesewenang-wenangan rezim kolonial, dalam hal ini kolonial Jepang di Lombok.
Semasa pendudukan Jepang seringkali tentara Jepang mengambil gadis-gadis lokal
secara paksa untuk dijadikan gundik. Yang mereka ambil adalah perempuan yang
belum memiliki suami atau perempuan yang belum memiliki ikatan perjodohan.
Karena itu masyarakat melakukan langkah preventif dengan cara menjodohkan
anak-anak perempuannya sejak masa kanak-kanak. Perkawinan ini kemudian dikenal
dengan nama “kawin tadong”. Kalau sudah mendapatkan status perkawinan otomatis
tentara Jepang tidak akan mengambilnya.
Alasan yang pertama dan kedua adalah alasan yang paling banyak ditemukan karena
itu biasanya perjodohan dilakukan di dalam garis kekerabatan (keluarga),
misalnya antar sepupu, yang dalam bahasa sasak disebut pisak (baca pisa’).
Perjodohan dimulai ketika masih dalam usia kanak-kanak atau sering juga terjadi
setelah mulai dewasa, yang dilakukan berdasarkan kesepakatan orang tua semata.
Dalam perjodohan ini terdapat tiga cara yang digunakan, yakni:
a. Setelah adanya kesepakatan antar orang tua diadakanlah upacara pernikahan
layaknya upacara pernikahan orang dewasa, namun sekalipun mereka telah
berstatus sebagai suami isteri mereka dilarang hidup bersama sebagai suami
isteri. Tempat tinggal mereka dipisahkan dan tetap tinggal bersama orang tua
masing-masing. Mereka akan dinikahkan dalam arti yang sebenarnya kelak setelah
memasuki usia dewasa (aqil baliq). Jadi dengan pernikahan dini tersebut
sesungguhnya anak-anak telah terikat dalam sebuah tali perkawinan
b. Anak-anak tidak dinikahkan akan tetapi hanya cukup dengan pertunangan.
Esensinya sama dengan cara di atas, bahwa kelak setelah dewasa anak-anak
tersebut akan dikawinkan dengan perkawinan yang sesungguhnya.
c. Anak-anak tidak dinikahkan juga tidak dilakukan pertunangan, akan tetapi
cukup diumumkan di publik bahwa anak mereka telah dijodohkan. Anak-anak
tersebut baru akan diberitahukan setelah mereka dianggap dewasa.
Jika kelak anak yang telah dikawinkan/jodohkan ini menolak melanjutkan
perkawinannya, orang tua akan memaksa anak-anaknya untuk tetap melanjutkan
perkawinan itu, hal kemudian menimbulkan tradisi kawin paksa. Akan tetapi jika
si anak tetap menolak maka orang tua akan melakukan pengusiran ke desa
tertentu. Pengusiran ini kemudian disebut “bolang” = buang.
Untuk itu mekanisme pemingitan yang merupakan pelarangan terhadap terutama
kepada anak perempuan yang telah dijodohkan atau yang telah dikawin tadong untuk
keluar dari rumah. Mekanisme ini kemudian melahirkan tradisi pingit. Dalam
perkembangan selanjutnya sistem pingit ini berlaku untuk seluruh anak gadis,
baik yg telah berjodoh maupn yang tidak dengan berbagai alasan.
Alasan pemingitan adalah (1) Agar tidak dilarikan oleh laki-laki lain, (2).
Menghindari terjadinya kasus-kasus asusila pada si gadis yang nantinya akan
membawa aib keluarga, Jadi tujuan utamanya adalah melindungi kaum peremouan.
2. Kawin Lamar (Mepadik Lamar)
Sistem ini tidak jauh beda dengan sistem lamar yang berlaku di tempat lain,
bahwa setelah calon mempelai bersepakat melakukan pernikahan, calon mempelai
laki-laki akan memberitahukan orang tuanya dan meminta dilamarkan ke orang tua
si gadis. Cara melamar ini dalam prakteknya sering sekali memerlukan waktu yang
panjang, ribet dan berliku-liku, sehingga sering sekali membuat rasa jenuh dan
jengkel bagi sepasang kekasih, yang bahkan tidak jarang berakhir dengan
kegagalan. Karena itu cara ini sangat tidak populer. Akan di masyarakat yang
taat beragama dan atau di masyarakat perkotaan sistem ini justeru lebih
populer.
3. Merarik (Selarian)
Sistem ini adalah yang paling populer, sekalipun mengandung bahaya namun cara
ini adalah cara yang umum dipergunakan oleh masyarakat Sasak sampai sekarang.
Merarik adalah sebuah langkah awal dari suatu proses perkawinan yang panjang.
Merarik sering dikonotasikan dengan mencuri gadis (perempuan) dalam arti
melarikan perempuan untuk dijadikan isteri oleh laki-laki. Jadi perbuatan
mencuri gadis bukan kejahatan
Filosofinya menurut pengertian yang umum diketahui, merarik dalam persepsi
masyarakat Sasak merupakan suatu bentuk “penghormatan” kepada kaum perempuan.
Bagi mereka, perempuan tidak bisa disamakan dengan benda yang bisa di tawar-tawar
atau diminta. Dikatakan bahwa dengan melarikan gadis pihak laki-laki ingin
menunjukkan keberanian dan kesetiaannya sebagai calon suami yang siap
mempertaruhkan nyawanya demi sang calon isteri.
Saat ini kata merarik secara praktis sudah menjadi “istilah” yang artinya sama
dengan “kawin”, tidak peduli dilakukan dengan cara kawin lari atau melamar.
Berikut ini
beberapa prosesi adat perkawinannya secara lengkap ;
|
Prosesi
|
Maknanya
|
|
1. Mesejati
|
Pihak
laki-laki mengutus beberapa orang tokoh masyarakat setempat atau tokoh adat
untuk melaporkan kepada desa atau kepala lingkungan untuk mempermaklumkan
mengenai perkawinan
|
|
2. Selabar
|
Untuk
mempermaklumkan kepada pihak keluarga calon pengantin perempuan yang ditindak
lanjuti oleh pembicaraan adat istiadat
|
|
3. Menjemput
wali
|
Menjemput
wali dari pihak yang perempuan bias langsung pada saat selabar atau beberapa
hari setelah selabar
|
|
4. Mengambil
janni
|
Membicarakan
seputar sorong serah dan aji krame sesuai adat istiadat yang berlaku di dalam
desa atau kampong asal calon mempelai perempuan
|
|
5. Sorong
serah Aji Krame
|
Niat
adat disebut juga sorong serah yatu suatu pernyataan persetujuan kedua pihak
baik dari pihak laki-laki maupun puhak perempuan
|
|
Aji
Krame terdiri dari :
|
|
|
Sesirah
|
Melambangkan
perbedaan antara orang bebas dengan budak
|
|
Lampak
Lemah
|
Sebagai penghapus
kedua bekas telapak kaki di atas tanah yang pernah dilewati oleh calon
mempelai
|
|
Pemegat
|
Sebagai
pemutus brupa uang yang terdiri dari seikat benang bolong yang dipergunakan
sesudah pembicaraan selesai sengan kata sepakat
|
|
Salin
Dedeng
|
Berupa sebuah
ceraken diatasnya diletakkan sebuah buluh yang diruncingkan dengan makna
sebagai persiapan untuk menantikan kelahiran sang bayi yang dihasilkan dari
sebuah perkawinan
|
|
Olen-olen
|
Berupa
sebuah peti yang didalamnya diisi dengan bermacam-macam kain atau sarung
tenun yang maknanya sebagai pelengkap mungkin terjadi kekurangan akibat dari
pembicaraan dalam acara sorong serah secara keseluruhan
|
|
6. Nyongkolan
|
Mengunjungi pihak
keluarga perempuan yang diiringi oleh kerabat dan handai taulan menggunakan
pakaian adat
|
|
7. Balik
Lampak Nae
|
Berkunjung
ke rumah orang tua perempuan secara khusus bersama kedua orang tua pihak
laki-laki
|
|
|
|
|
B.
ATRAKSI
BUDAYA SUKU SASAK antara lain:
- Bau Nyale. Bau
Nyale adalah sebuah peristiwa dan tradisi yang sangat melegenda dan
mempunyai nilai sakral tinggi bagi suku Sasak. Tradisi ini diawali oleh
kisah seorang Putri Raja Tonjang Baru yang sangat cantik yang dipanggil
dengan Putri Mandalika. Karena kecantikannya itu para Putra Raja,
memperebutkan untuk meminangnya. Jika salah satu Putra raja ditolak
pinangannya maka akan menimbulkan peperangan. Sang Putri mengambil
keputusan pada tanggal 20 bulan kesepuluh untuk menceburkan diri ke laut
lepas. Dipercaya oleh masyarakat hingga kini bahwa Nyale adalah jelmaan
dari Putri Mandalika. Nyale adalah sejenis binatang laut berkembang biak
dengan bertelur, perkelaminan antara jantan dan betina. Upacara ini
diadakan setahun sekali. Bagi masyarakat Sasak, Nyale dipergunakan untuk
bermacam-macam keperluan seperti santapan (Emping Nyale), ditaburkan ke
sawah untuk kesuburan padi, lauk pauk, obat kuat dan lainnya yang bersifat
magis sesuai dengan keyakinan masing-masing.
- Upacara Rebo Bontong
Upacara Rebo bontong dimaksudkan untuk menolak balaâ (bencana/penyakit),
dilaksanakan setiap tahun sekali tepat pada hari Rabu minggu terakhir
bulan Safar. Menurut kepercayaan masyarakat Sasak bahwa pada hari Rebo
Bontong adalah merupakan puncak terjadi Bala (bencana/penyakit), sehingga
sampai sekarang masih dipercaya untuk memulai suatu pekerjaan tidak
diawali pada hari Rebo Bontong. Rebo Bontong ini mengandung arti Rebo dan
Bontong yang berarti putus sehingga bila diberi awalan pe menjadi pemutus.
Upacara Rebo Bontong ini sampai sekarang masih tetap dilaksanakan oleh
masyarakat di Kecamatan Pringgabaya.
- Slober.
Kesenian Slober adalah salah satu jenis musik tradisional Lombok yang
tergolong cukup tua, alat-alat musiknya sangat unik dan sederhana yng
terbuat dari pelepah enau dengan panjang 1 jengkal dan lebar 3 cm.
Kesenian slober didukung juga dengan peralatan yang lainnya yaitu gendang,
petuq, rincik, gambus, seruling. Nama kesenian slober diambil dari salah
seorang warga desa Pengadangan kecamatan Pringgasela yang bernama Amaq Asih
alias Amaq Slober. Kesenian ini salah satu kesenian yang masih eksis
sampai saat ini yang biasanya dimainkan pada setiap bulan purnama.
- Lomba Memaos atau membaca lontar
yaitu lomba menceritakan hikayat kerajaan masa lampau, satu kelompok
pepaos terdiri dari 3-4 orang, satu orang sebagai pembaca, satu orang
sebagai pejangga dan satu orang sebagai pendukung vokal. Tujuan pembacaan
cerita ini untuk mengetahui kebudayaan masa lampau, dan menanamkan
nilai-nilai budaya pada generasi penerus. Kesenian memaos ini diangkat
kembali sebagai asset budaya daerah dan dapat dijadikan sebagai daya tarik
wisata khususnya wisata budaya.
- Periseian. Kesenian
Bela diri ini sudah ada sejak jaman kerajaan-kerajaan di Lombok, awalnya
adalah semacam latihan pedang dan perisai sebelum berangkat ke medan
pertempuran. Pada perkembangannya hingga kini senjata yang dipakai berupa
sebilah rotan dengan lapisan aspal dan pecahan kaca yang dihaluskan, sedangkan
perisai (Ende) terbuat dari kulit lembu atau kerbau. Setiap
pemainnya/pepadu dilengkapi dengan ikat kepala dan kain panjang. Kesenian
ini tak lepas dari upacara ritual dan musik yang membangkitkan semangat
untuk berperang. Pertandingan akan dihentikan jika salah satu pepadu
mengeluarkan darah atau dihentikan oleh juri. Walaupun perkelahian cukup
seru bahkan tak jarang terjadi cidera hingga mengucurkan darah didalam
arena., tetapi diluar arena sebagai pepadu yang menjunjung tinggi
sportifitas tidak ada dendam diantara mereka. Inilah pepadu Sasak.
Festival Periseian diadakan setiap tahun di Kabupaten Lombok Timur dan
diikuti oleh pepadu sepulau Lombok. Begasingan Begasingan merupakan salah
satu permainan yang mem-punyai unsur seni dan olah raga, merupakan
permainan yang ter-golong cukup tua di masyarakat Sasak. Begasingan ini
berasal dari dua suku kata yaitu Gang dan Sing yang artinya gang adalah
lokasi lahadalah suara. Seni tradisional ini mencerminkan nuansa
kemasyarakatan yang tetap berpegangan kepada petunjuk dan aturan yang
berlaku ditempat permainan itu, nilai-nilai yang berkembang didalamnya
selalu mengedepankan rasa saling menghormati dan rasa kebersamaan yang
cukup kuat serta utuh dalam melaksanakan suatu tujuan dan selalu
menjunjung tinggi nilai-nilai luhur yang menjadi kebanggaan jati diri.
Permainan ini biasanya dilakukan semua kelompok umur dan jumlah pemain
tergantung kesepakatan kedua belah pihak di lapangan.
- Bebubus Batu. Bebubus batu
merupakan salah satu warisan budaya Sasak yang masih dilaksanakan didusun
Batu Pandang kecamatan Swela. Bebubus batu berasala dari kata bubus yaitu
sejenis ramuan obatan yang terbuat dari beras dan dicampur dengan berbagai
jenis tumbuh-tumbuhan sedangkan batu adalah sebuah batu tempat untuk
melaksanakan upacara yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat. Prosesi
acara ini dipimpin oleh Pemangku yang diiringi oleh kiyai, penghulu dan
seluruh warga dengan menggunakan pakaian adat dan membawa Sesajen (dulang)
serta ayam yang akan dipakai untuk melaksanakan upacara. Upacara Bebubus
batu uni dilaksanakan setiap tahunnya yang dimaksudkan adalah untuk
meminta berkah kepada Sang Pencipta.
- Sabuk
Belo. Sabuk Belo adalah sabuk yang panjangnya 25 meter dan
merupakan warisan turun temurun masyarakat Lombok khususnya yang berada di
Lenek Daya. Sabuk Belo biasanya dikeluarkan pada saat peringatan Maulid
Bleq bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal tahun Hijriah. Upacara
pengeluaran Sabuk Bleq ini diawali dengan mengusung keliling kampung
secara bersama-sama yang diiringi dengan tetabuhan Gendang Beleq yang
dilanjutkan dengan praja mulud dan diakhiri dengan memberi makan kepada
berbagai jenis makhluk. Menurut
kepercayaan masyarakat setempat upacara ini dilakukan sebagai simbol
ikatan persaudaraan, persahabatan, persatuan dan gotong royong sserta rasa
kasih sayang diantara makhluk yang merupakan ciptaan Allah.
- Gendang Beleq. Disebut Gendang
Beleq karena salah satu alatnya adalah gendang beleq (gendang besar).
Orkestra ini terdiri atas dua buah gendang beleq yang disebut gendang mama
(laki-laki) dan gendang nina(perempuan), berfungsi sebagai pembawa
dinamika. Sebuah gendang kodeq (gendang kecil), dua buah reog sebagai
pembawa melodi masing-masing reog mama, terdiri atas dua nada dan sebuah
reog nina, sebuah perembak beleq yang berfungsi sebagai alat ritmis,
delapan buah perembak kodeq. Perembak ini paling sedikit enam buah dan
paling banyak sepuluh. Berfungsi sebagai alat ritmis, sebuah petuk sebagai
alat ritmis, sebuah gong besar sebagai alat ritmis, sebuah gong penyentak,
sebagai alat ritmis, sebuah gong oncer, sebagai alat ritmis, dan dua buah
bendera maerah tau kuning yang disebut lelontek. Menurut cerita, gendang
beleq ini dulu dimainkan kalau ada pesta-pesta kerajaan, sedang kalau ada
perang berfungsi sebagai komandan perang, sedang copek sebagai
prajuritnya. Kalau perlu datu (raja) ikut berperang, disini payung agung
akan digunakan. Sekarang fungsi payung ini ditiru dalam upacara
perakawinan. Gendang beleq dapat dimainkan sambil berjalan atau duduk.
Komposisi waktu berjalan mempunyai aturan tertentu, berbeda dengan duduk
yang tidak mempunyai aturan. pada waktu dimainkan pembawa gendang beleq
akan memainkannya sambil menari, demikian juga pembawa petuk, copek dan
lelontok.
- Upacara ngayu-ayu adalah
sejenis upacara penghormatan kepada alam
- Tong-tong suit uapcara yang
dilakukan apabila tanaman disawah sudah waktunya dipanen
- Kaoq-kaoqan adalah upacara
ritual meminta hujan pada masyarakat islam waktu telu
- Nyalamak laut adalah upacara yang
selamatan laut yang biasanya dilakukan oleh masyarakat tanjung luar
- Perang Topat adalah tradisi masyarakan
lingsar dalam menyambut panen padi atau ucapan rasaya syukur kepada Allah
dan Acara itu merupakan lambang
kerukunan antar umat beragama, khususnya masyarakat Sasak (pemeluk Islam)
dan masyarakat etnis Bali (pemeluk Hindu)
C.
ALAT
MUSIK SUKU SASAK
Jenis-jenis
alat musik tradisional Sasak Lombok antara lain:
1.
Genggong
Alat musik ini termasuk dalam jenis alat musik tiup yang terbuat dari pelepah
daun enau. Secara etimologis kata genggong bersala dari kata geng (suara
tinggi) disebut genggong lanang dan gong (suara rendah) disebut wadon, sehingga
musik genggong selalu dimainkan secara berpasangan. Musik genggong secara
orkestra dapat dimainkan dengan alat musik yang lain seperti petuq, seruling,
rincik dan lain-lain.
2.
Rebana
Burdah
Sebuah bentuk alat musik hasil akulturasi kebudayaan bangsa Arab dengan etnis
Sasak. Rebana Burdah dipadukan dengan syair-syair pujian terhadap Allah SWT dan
riwayat Nabi Muhammad SAW yang dipetik dari kitab karya sastra Arab Al Baranzi.
3.
Gambus
Alat musik petik dengan menggunakan dawai sebagai sumber suara (bunyi) yang
digunakan untuk mengiringi lagu-lagu tradisional. Dapat dimainkan secara
bersama-sama atau sendiri.
4.
Mandolin
Alat ini merupakan sebuah alat musik petik tradisional yang mempunyai senar dan
dimainkan seperti biola. Sering dipakai untuk mengiringi tari rudat dan
lagu-lagu tradisonal. Alat musik ini dapat dipadukan dengan alat musik lainnnya
untuk mengiringi lagu-lagu tradisional.
5.
Preret
Preret adalah sebuah alat pengiring tarian, lagu maupun orkestra. Alat musik
ini dijumpai hampir diseluruh wilayah Indonesia.
6.
BarongTengkok
Merupakan salah satu jenis musik orkestra Lombok, terdiri dari krenceng enam
pasang, satu buah gendang dan sebuah petuk. Barong lanang/wadon yang
berfungsisebagai tempat reog sebuah gong dan tiga buah seruling sebagai pembawa
melodi. Disebut barong tengkok karena salah satu alatnya (reog) diletakkan pada
bentuk barong yang dibawa dengan ditengkokkan
D.
PERMAINAN
TRADISIONAL SUKU SASAK
Masyarakat
Sasak mengenal beberapa permainan tradisional. Permainan ini masih dipelihara,
terutama di daerah daerah pedesaan. Antara lain :
1.
Belanjakan
Belanjakan
adalah seni bela diri khas masyarakat Lombok. Belanjakan memadukan seni bela
diri gulat, yudo dan pencak silat. Pada zaman dahulu diadakan untuk mengisi
waktu setelah panen dilakukan pada malam hari yang diberi lampu penerang berupa
obor. Belanjakan adalah adu fisik antar dua orang laki-laki yang menggunakan
teknik tendangan, bantingan dan tepidan. Tidak diperbolehkan melakukan hantaman
dengan tangan. Belanjakan sangat besar persamaannya baik secra teknik maupun
pakaian yang dikenakan dengan sumo. Untuk belanjakan pemain dilengkapi dengan
pakaian yang disebut bekancut. Pakaian mirip dengan pakaian dengan pesumo
Jepang. Bedanya adalah sumo menggunakan dorongan dan bantingan.
2.
Besilo’an
Besilo’an
adalah salah satu jenis permainan rakyat yang berkembang khususnnya di kalangan
anak-anak suku Sasak. Besilo’an bersala dari kata silo’ atau julat yang
berarti terbakar. Jadi besilo’an berarti kebakaran. Permainan ini dilakukan
dengan berkelompok, masing-masing terdiri dari 4 orang. Permainan dilakukan
dengan cara menetukan terlebih dahulu kelompok mana yang akan dijaga berada
didalam garis edangkan yang lainnya di luar garis. Anggota kelompok yang dijaga
berusaha menerobos keluar sementara yang lain menghalangi. Apabila dia bisa
keluar dari garis penjagaan dan berbalik kembali menjaga.
3.
Keduk Keke.
Keduk
KekeAdalah salah satu permainan anak-anak yang dilakukan pada siang hari. Permainan
dilakukan dengan cara satu lawan satu. Peserta minimal dua orang, maksimal 4
orang. Lidi/kayu kecil ditancapkan pada gundukan tanah atau pasir yang berda
ditengan-tengah pemain. Dengan menggunakan alat bantu berupa kayu atau lidi
ataupun dengan jari tangan sendiri setiap pemain mengeruk tumpukan tersebut
sambil menyanyikan “keduk keke lendang bajo, sai ngepe ie kado�. Apabila
salah seorang pemain menjatuhkan lidi/kayu maka dia dianggap kalah.
4.
Cipuci-puci
Cipuci-puci
adalah permainan anak-anak yang berumur 5-11 tahun. Permainan ini dilakukan
minimal tiga orang yang salah satunya akan diundi untuk memimpin jalannya
permainan. Peserta mengulurkan tangan kedepan kemudian pemimpin memulai
ketempat dimulainya permainan dan anggota kelompok yang lain tidak tertangkap
permainan berakhir atau silo’. Demikian sebaliknya apabila ada salah seorang
anggota yang tertangkap maka kelompok yang dijaga mengganti kelompok yang
permainan dengan menunjuk tangan peserta sambil menyanyikan “cipuci-puci
enjang-enjang bidaderi, njelele-njelepong kamu minta kembang apa……( jika
kata apa…… jatuh ditangan salah seorang anak maka anak itu harus meminta
atau menyebutkan nama salah satu bunga, misalnya melati) maka pemimpin menjawab
dan melanjutkan kata-kata melati tersebut menjadi “lama-lama lakinya pulang
sudah mati�.
5.
Jumpring.
Permainan ini
biasa dilakukan oleh lima orang anak yang diawali dengan ompimpang (salah satu
cara mengundi). Yang kalah harus telungkup sambil menutup mata ditanah.
Sedangkan yang menang akan memimpin permainan. Dengan membawa kerikil pemimpin
memulai permainan dengan jalan menepuk-nepuk tangan peserta lainnya yang berada
diatas punggung yang kalah sambil menyanyikan “jumpring cet-ecet ketibu
dondong, aji pira teloq sopoq�,
begitu kalimat ini diselesaikan batu yng tadi dipegang diletakkan dalam
genggaman salah seorang peserta, kemudian semuanya mengucapkan “aleem-aleem� secara
berulag-ulang.
E.
RUMAH
ADAT SUKU SASAK
Rumah bukan
sekadar tempat hunian yang multifungsi, melainkan juga punya nilai estetika dan
pesan-pesan filosofi bagi penghuninya, baik arsitektur maupun tata ruangnya.
Rumah adat Sasak pada bagian atapnya berbentuk seperti gunungan, menukik ke
bawah dengan jarak sekitar 1,5-2 meter dari permukaan tanah. Atap dan bubungannya
(bungus) terbuat dari alang-alang, dindingnya dari anyaman bambu, hanya
mempunyai satu berukuran kecil dan tidak ada jendelanya. Ruangannya (rong)
dibagi menjadi inan bale (ruang induk) yang meliputi bale luar (ruang tidur)
dan bale dalem berupa tempat menyimpan harta benda, ruang ibu melahirkan
sekaligus ruang disemayamkannya jenazah sebelum dimakamkan.
Ruangan bale dalem dilengkapi amben, dapur, dan sempare (tempat menyimpan
makanan dan peralatan rumah tangga lainnya) terbuat dari bambu ukuran 2 x 2
meter persegi atau bisa empat persegi panjang. Selain itu ada sesangkok (ruang
tamu) dan pintu masuk dengan sistem geser. Di antara bale luar dan bale dalem
ada pintu dan tangga (tiga anak tangga) dan lantainya berupa campuran tanah
dengan kotoran kerbau atau kuda, getah, dan abu jerami. Undak-undak (tangga),
digunakan sebagai penghubung antara bale luar dan bale dalem.
Hal lain yang cukup menarik diperhatikan dari rumah adat Sasak adalah pola
pembangunannya. Dalam membangun rumah, orang Sasak menyesuaikan dengan
kebutuhan keluarga maupun kelompoknya. Artinya, pembangunan tidak semata-mata
untuk mememenuhi kebutuhan keluarga tetapi juga kebutuhan kelompok. Karena
konsep itulah, maka komplek perumahan adat Sasak tampak teratur seperti
menggambarkan kehidupan harmoni penduduk setempat.
Bentuk rumah tradisional Lombok berkembang saat pemerintahan Kerajaan Karang
Asem (abad 17), di mana arsitektur Lombok dikawinkan dengan arsitektur Bali.
Selain tempat berlindung, rumah juga memiliki nilai estetika, filosofi, dan
kehidupan sederhana para penduduk di masa lampau yang mengandalkan sumber daya
alam sebagai tambang nafkah harian, sekaligus sebagai bahan pembangunan rumah.
Lantai rumah itu adalah campuran dari tanah, getah pohon kayu banten dan bajur
(istilah lokal), dicampur batu bara yang ada dalam batu bateri, abu jerami yang
dibakar, kemudian diolesi dengan kotoran kerbau atau kuda di bagian permukaan
lantai. Materi membuat lantai rumah itu berfungsi sebagai zat perekat, juga
guna menghindari lantai tidak lembab. Bahan lantai itu digunakan, oleh warga di
Dusun Sade, mengingat kotoran kerbau atau sapi tidak bisa bersenyawa dengan
tanah liat yang merupakan jenis tanah di dusun itu.
Konstruksi rumah tradisional Sasak agaknya terkait pula
dengan perspektif Islam. Anak tangga sebanyak tiga buah tadi adalah simbol daur
hidup manusia: lahir, berkembang, dan mati. Juga sebagai keluarga batih (ayah,
ibu, dan anak), atau berugak bertiang empat simbol syariat Islam: Al Quran,
Hadis, Ijma’, Qiyas). Anak yang yunior dan senior dalam usia ditentukan lokasi
rumahnya. Rumah orangtua berada di tingkat paling tinggi, disusul anak
sulung dan anak bungsu berada di tingkat paling bawah. Ini sebuah ajaran budi
pekerti bahwa kakak dalam bersikap dan berperilaku hendaknya menjadi panutan sang
adik.
Rumah yang menghadap timur secara simbolis bermakna bahwa yang tua lebih dulu
menerima/menikmati kehangatan matahari pagi ketimbang yang muda yang secara
fisik lebih kuat. Juga bisa berarti, begitu keluar rumah untuk bekerja dan
mencari nafkah, manusia berharap mendapat rida Allah di antaranya melalui
shalat, dan hal itu sudah diingatkan bahwa pintu rumahnya menghadap timur atau
berlawanan dengan arah matahari terbenam (barat/kiblat). Tamu pun harus
merunduk bila memasuki pintu rumah yang relatif pendek. Mungkin posisi
membungkuk itu secara tidak langsung mengisyaratkan sebuah etika atau wujud
penghormatan kepada tuan rumah dari sang tamu.
Kemudian lumbung, kecuali mengajarkan warganya untuk hidup hemat dan tidak
boros sebab stok logistik yang disimpan di dalamnya, hanya bisa diambil pada
waktu tertentu, misalnya sekali sebulan. Bahan logistik (padi dan palawija) itu
tidak boleh dikuras habis, melainkan disisakan untuk keperluan mendadak,
seperti mengantisipasi gagal panen akibat cuaca dan serangan binatang yang
merusak tanaman atau bahan untuk mengadakan syukuran jika ada salah satu
anggota keluarga meninggal.
Berugak yang ada di depan rumah, di samping merupakan penghormatan terhadap
rezeki yang diberikan Tuhan, juga berfungsi sebagai ruang keluarga, menerima
tamu, juga menjadi alat kontrol bagi warga sekitar. Misalnya, kalau sampai
pukul sembilan pagi masih ada yang duduk di berugak dan tidak keluar rumah
untuk bekerja di sawah, ladang, dan kebun, mungkin dia sakit.
Sejak proses perencanaan rumah didirikan, peran perempuan atau istri
diutamakan. Umpamanya, jarak usuk bambu rangka atap selebar kepala istri,
tinggi penyimpanan alat dapur (sempare) harus bisa dicapai lengan istri, bahkan
lebar pintu rumah seukuran tubuh istri. Membangun dan merehabilitasi rumah
dilakukan secara gotong-royong meski makan-minum, berikut bahan bangunan,
disediakan tuan rumah.
Dalam masyarakat Sasak, rumah berada dalam dimensi
sakral (suci) dan profan duniawi) secara bersamaan. Artinya, rumah adat Sasak
disamping sebagai tempat berlindung dan berkumpulnya anggota keluarga juga
menjadi tempat dilaksanakannya ritual-ritual sakral yang merupakan manifestasi
dari keyakinan kepada Tuhan, arwah nenek moyang (papuk baluk) bale (penunggu
rumah), dan sebaginya.
Perubahan pengetahuan masyarakat, bertambahnya jumlah penghuni dan
berubahnya faktor-faktor eksternal lainya (seperti faktor keamanan, geografis,
dan topografis) menyebabkan perubahan terhadap fungsi dan bentuk fisik rumah
adat. Hanya saja, konsep pembangunannya seperti arsitektur, tata ruang, dan
polanya tetap menampilkan karakteristik tradisionalnya yang dilandasi oleh
nilai-nilai filosofis yang ditransmisikan secara turun temurun.
Pemilihan Waktu dan Lokasi
Untuk memulai membangun rumah, dicari waktu yang tepat, berpedoman pada papan
warige yang berasal dari Primbon Tapel Adam dan Tajul Muluq. Tidak semua orang
mempunyai kemampuan untuk menentukan hari baik, biasanya orang yang hendak
membangun rumah bertanya kepada pemimpin adat. Orang Sasak di Lombok
meyakini bahwa waktu yang baik untuk memulai membangun rumah adalah pada bulan
ketiga dan bulan kedua belas penanggalan Sasak, yaitu bulan Rabiul Awal dan
Zulhijjah pada kalender Islam. Ada juga yang menentukan hari baik
berdasarkan nama orang yang akan membangun rumah. Sedangkan bulan yang paling
dihindari (pantangan) untuk membangun rumah adalah pada bulan Muharram dan
Ramadlan. Pada kedua bulan ini, menurut kepercayaan masyarakat setempat, rumah
yang dibangun cenderung mengundang malapetaka, seperti penyakit, kebakaran,
sulit rizqi, dan sebagainya.
Selain persoalan waktu baik untuk memulai pembangunan, orang Sasak juga
selektif dalam menentukan lokasi tempat pendirian rumah. Mereka meyakini bahwa
lokasi yang tidak tepat dapat berakibat kurang baik kepada yang menempatinya.
Misalnya, mereka tidak akan membangun tumah di atas bekas perapian, bekas
tempat pembuangan sampah, bekas sumur, dan pada posisi jalan tusuk sate atau
susur gubug. Selain itu, orang Sasak tidak akan membangun rumah berlawanan arah
dan ukurannya berbeda dengan rumah yang lebih dahulu ada. Menurut mereka,
melanggar konsep tersebut merupakan perbuatan melawan tabu (maliq-lenget).
Sementara material yang dibutuhkan untuk membangun rumah antara lain: kayu-kayu
penyangga, bambu, anyaman dari bambu untuk dinding, jerami dan alang-alang
digunakan untuk membuat atap, kotaran kerbau atau kuda sebagai bahan campuran
untuk mengeraskan lantai, getah pohon kayu banten dan bajur, abu jerami,
digunakan sebagai bahan campuran untuk mengeraskan lantai.
Rumah
sebagaimana pemahamannya adalah sebagai tempat berlindung sekaligus juga
sebagai tempat menyimpan harta benda yang dimilikinya, dalam masyarakat
komunitas Sasak, dalam membangun rumah itu disesuaikan dengan kebutuhan
keluarga maupun kelompoknya disatu lingkungan, bangunan rumah tersebut memiliki
nama sesuai dengan fungsi dankegunaannya serta nilai filosopi yang terkandong
didalamnya, adapun jenis rumah antara lain sbb. :
1.
BALE T A N I :
Bale Tani
adalah bangunan rumah yang ditempati sebagai rumah…. tinggal oleh masyarakat
komunitas Sasak dilingkungan kebanyakan terutama sekali yang berpencaharian
sebagai petani, bangunan ini adalah satu buah rumah yangberlantaikan tanah
dengan tata ruangnya terdiri dari satu ruang untuk serambi (Sesangkok) dan satu
ruang untuk kamar (dalem bale), pada umumnya bale tani ini kamar (dalem bale)
yang ada pada bangunan tersebut, tidak dipakai sebagai tempat tidur, melainkan
untuk tempat menyimpan barang (harta benda) yang dimilikinya, kecuali bagi
keluarga yang mempunyai anak gadis akan tidur dikamar (dalem bale), sedangkan
tempat tidur bagi yang lain selain gadis adalah sebagian dari serambi yang ada,
untuk keperluan masak memasak (dapur) masyarakat Sasak membuat tempat khusus
yang disebut pawon.Sedangkan designe atap rumah atau bale tani, ini umumnya
dengan sistim jurai yang atapnya terbuat dari alang-alang dimana ujung atap
bagian Serambi (sesangkok) sangat rendah sebatas kening pada ketinggian orang
berdiri, hal ini dikandung maksud agar siapapun yang datang dan hendak duduk
diserambi rumah tersebut maka dia akan merunduk, sikap tunduk ini diartikan
saling hormat menghormati dan saling menghargai antara tamu dengan tuan
rumah.Adapun dinding rumah bale tani ini terdiri dari bedek disekitar kamar
dalem bale, sebangkan pada serambi/ sesangkok tidak menggunakan dinding
melainkan terbuka lebar, pondasi bale tani ini terbuat dari tanah yang artinya,
bahwa manusia itu tidak dapat dipisahkan dengan tanah sebab tanah adalah unsur
meterial penciptaan manusia oleh Allah SWT. Antara serambi/sesangkok
dengan kamar (dalem bale) tidak sama, kamar lebih tinggi dari pada serambi,
untuk masuk kekamar (dalem bale) dibuatkan tangga ( undak-undak ) yang biasanya
dibuat tiga trap dengan pintu yang dinamakan lawang kuri, dengan tidak samanya
tinggi pondasi serambi (sesangkok) dengan kamar (dalem bale) tersebut.Hal ini
diartikan bahwa siapapun manusia ciptaan Tuhan tidak akan sama ketaqwaannya,
ilmu pengetahuannya maupun kekayaannya, dengan dibentuknya pondasi seperti ini,
maka diharapkan agar kita semua senantiasa ingat akan segala kekurangan dan
kelebihan itu sebagai rahmat Tuhan. Adapun tinggi pondasi rumah bale
tani ini berkisar yaitu untuk serambi dengan ketingian 70 – 80 Cm. Dari
permukaan tanah sedangkan ketinggian untuk kamarnya sekitar 50 – 60 Cm. Dari
permukaan serambi, sehingga setiap bale tani selalu ada tangga (undak-undak)
yang sama bahan pembuatannya dengan bahan pondasi, dari halaman (leleyah) untuk
masuk ke rumah, juga dibuatkan tangga (undak-undak), pada umumnya lingkungan
bangunan rumah lokasi pemukiman tersebut senantiasa didukung/dilengkapi dengan
sarana penyimpanan hasil pertanian seperti bangunan Sambi, alang dan lumbung
sebagaimana khasnya bangunan gedung di Pulau Lombok masa kini, disamping itu
pula ada bangunan sekepat / berugaq dan sekenam.
2.
BALE J A J A R :
Bale Jajar
adalah merupakan bangunan rumah tinggal bagi masyarkat komunitas Sasak
dikalangan masyarakat… golongan ekonomi menengah keatas,, bentuknya hampir sama
dengan bale tani, sedangkan bedanya Bale Jajar memiliki dua kamar (dalem bale)
dan satu serambi (Sesangkok) diantara dua kamar tersebut terpisah dengan adanya
lorong/koridor dari serambi / sesangkok menuju dapur dibagian belakang pada dua
kamar (dalem bale) tersebut satu kamar lebih kecil dari kamar yang lain, sedangkan
posisi tangga/pintu koridornya terletak pada sepertiga dari panjang bangunan
bale jajar, designe atap sama sengan bentuk bale tani akan tetapi, pada bale
jajar difasilitasi dengan dapur dibelakang yang sebagiannya untuk kandang
ternak peliharaan dan atau tempat menyimpan alat pertanian yang dimiliki, bale
jajar ini hingga sekarang masih kita temui ditempat – tempat tertentu, misalnya
diperkampunganorang-orang bangsawan di Desa Mantang Kec. Batukliang, Desa
Sengkol Kec. Pujut dan Desa Bonjeruk, Desa Sukarara Kecamatan Jonggat Lombok
Tengah.Bale Jajar ini menggunakan bahan terediri dari tiang kayu, dinding bedek
dan atap dari alang-alang, akan tetapi ada dibeberapa tempat sudah mulai
menggunakan genteng tetapi dengan tidak merubah tata ruang dan ornamennya,
bangunan bale jajar ini biasanya berada dilingkungan pemukiman yang luas dan
rata-rata memiliki halaman yang cukup luas dan umumnya bangunan bale jajar ini
ditengarai pula dengan menjulang tingginya alang / sambi sebagai tempat
penyimpanan logistik kebutuhan rumah tangga dan atau keluarga lainnya.Dibagian
depan rumah bale jajar ini bertengger sebuah bangunan kecil dinamakan berugaq
atau sekepat dan dibagian belakang rumah bale jajar berdiri sebuah bangunan
yang dinamakan Sekenam, bangunan sekenam ini hampir sama seperti berugaq atau
sekepat, yang membedakan adalah tiangnya berjumlah enam.
3.
BERUGAQ / SEKEPAT :
Berugaq /
Sekepat adalah merupakan salah satu bangunan pendukung dalam… tata ruang
bangunan tradisional Sasak, berugaq ini berbentuk segi empat sama sisi (bujur
sangkar) bangunan ini terbuat dari kayu, bambu dan alang-alang sebagai atapnya
dengan tidak menggunakan dinding, berugaq atau sekepat ini biasanya ditempatkan
pada depan samping kiri atau kanan bangunan rumah bale jajar atau bale tani,
berugaq / sekepat ini didirikan setelah dibuat kan pondasi terlebih dahulu
kemudian didirikan tiangnya berjumlah empat diantara tiang yang empat dibuat
lantai dengan ketinggian 40 – 50 Cm. beralaskan papan kayu dan atau bilah bambu
dianyam dengan tali pintal (Peppit), dibagian atasnya ada kayu ganda sebagai
mirplatnya kemudian diatap dengan alang-alang, berugaq / sekepat ini tidak akan
pernah didapati dalam bentuk atap gudangan akan tetapi ciri khasnya adalah
dengan atap jurai.Fungsi dan kegunaan Berugaq / sekepat adalah sebagai tempat
menerima tamu, menurut kebiasaan orang Sasak, tidak semua orang boleh masuk
kerumah, oleh karena itu dibuatlah berugaq / sekepat ini sebagai alternatif tempat
untuk menerima tamu, disamping itu pula bagi pemilik rumahyang memiliki gadis,
ditempat inilah ia menerima pemuda yang datang midang, lebih lanjut berugaq /
sekepat ini harus dalam bentuk terbuka tidak memiliki dinding apalagi penyekat
karena siapapun berada ditempat itu akan dapat dilihat dan disaksikan oleh
semua orang, disamping itu juga untuk menjaga agar hal-hal yang negatif tidak
akan terjadi, terlebih lagi jika tamu laki-laki datang disaat tuan rumah sedang
tidak ada ditempat, maka diberugaqlah tempat duduknya.Menurut beberapa Nara
Sumber menjelaskan bahwa, tiang Berugaq / Sekepat yang berjumlah empat
tersebut, digambarkan beberapa hal yang sangat diperhatikan oleh masyarakat
komunitas Sasak dimasa lampau yaitu : Kebenaran yang
harus diutamakan ; Kepercayaan diri dalam memegang amanah ; dalam menyampaikan
sesuatu hendaknya berlaku jujur dan polos dan sebagai orang yang beriman
hendaknya pandai / cerdas dalam menyikapi masah (tanggap) , atap yang memayungi
Berugaq/Sekepat tersebut, menggambarkan bahwa Tuhan Maha tahu atas segalanya,
baik yang tersirat maupun yang tersurat apalagi.
4.
S E K E N A M :
Sekenam
merupakan sarana pendukung dalam tata ruang pemukiman masyarakat komunitas…
Sasak, designe dan ornamennya hampir sama dengan berugaq / sekepat, hanya yang
membedakan adalah kalau berugaq / sekepat memiliki tiang empat buah sedangkan
sekenam memiliki tiang sebanyak enam buah, bangunan sekenam ini biasanya
dibangun atau diletakkan pada bagian belakang rumah, dan dimanfaatkan sebagai
tempat kegiatan belajar mengajar tentang Tata Krama, ilmu sosial lainnya dan
dipergunakan pula sebagai tempat pertemuan keluarga secara internal.
5.
BALE B O N T E R :
Bale Bonter
adalah sebuah bangunan tradisional Sasak yang umumnya ….dimiliki oleh para
perkanggo/ Pemerintah Desa, Dusun / kampung, bale bonter ini dipergunakan
sebagai temopat pesangkepan / persidangan adat antara lain sebagai tempat
penyelesaian masalah pelanggaran hukum adat, tempat pembuatan awig-awig baik
Awig-awig Desa maupun Gubug atau kampung/ banjar keluarga.Bale Bonter ini dapat
juga disebut Gedeng Pengukuhan dan tempat menyimpanan benda-benda bersejaran
atau pusaka warisan keluarga, bale Bonter ini berbentuk segi empat bujur
sangkar, memiliki tiang paling sedikit 9 buah dan paling banyak 18 buah tiang,
bangunan ini dikelilingi dengan dinding bedek atau tembok ditengahnya tidak
memiliki sekat, melainkan seperti aula, designe atap tidak memakai nock / sun,
hanya pada puncak atapya itu menggunakan tutup berbentuk kopyah berwarna
hitam.Bale Bonter ini biasanya dibangun ditengah-tengah pemukiman dan atau
dapat pula dibangun di pusat pemerintahan Desa / kampung.
6.
BALE B E L E Q BENCINGAH) :
Bale Beleq
adalah salah satu sarana penting bagi sebuah Kerajaan,…. dimana bale beleq ini
diperuntukkan sebagai tempat kegiatan besar Kerajaan, bale beleq ini dapat pula
disebut “Bencingah” sebab ditempat ini Datu / Raja menyelenggarakan upacara
ceremonial kerajaan seperti :- Pelantikan Pejabat Kerajaan- Penobatan Putra
Mahkota Kerajaan- Kegiatan anjenengan- Pengukuhan/penobatan para Kiyai Penghulu
(Pendita) Kerajaan,, disamping itu ditempat ini juga digunakan sebagai tempat
penyimpanan benda-benda Pusaka Kerajaan seperti persenjataan dan benda pusaka
lainnya seperti pustaka / dokumen dokumen KerajaanBale Beleq ( Bencingah) ini
tidak dapat dibuka pada sembarang waktu, melainkan hanya boleh dibuka pada
waktu-waktu tertentu sesuai perintah Sang Raja ( Datu). bentuk Bangunan Bale
Beleq (Bencingah) ini pondasi dibuat lima trap tangga (undak-undak), hal ini
disesuaikan dengan keberadaan / status serta struktur Pemerintahan pada masa
itu / eksistensi Kerajaan Selaparang & Pejanggiq.Bangunan berbentuk segi
empat bujur sangkar, disetiap penjurunya ditambah dengan semacam teras akan
tetapi menyatu dengan induk bangunan tersebut hal ini nejunjukkan bahwa,
kecerdasan itu akan nampak manakala menyampaikan sesuatu yang benar dan yang
benar itu wajib dipercaya, prilaku yang seperti inilah bentuk dari watak dan
karaktristik masyarakat komunitas Sasak yang sebenarnya.
7.
BALE T A J U K :
Bale Tajuk ini
salah.. satu sarana pendukung bagi bangunan rumah tinggal yang memiliki
keluarga besar dan luas, bale tajuk ini berada ditengah lingkungan keluarga
santana, bangunan ini dipergunakan sebagai fasilitas pertemuan keluarga besar
yang ada, disamping itu juga sebagai tempat pelatihan macapat takepan, Lontar
maupun Bell sebagai suatu upaya dalam menambah wawasan tentang pustaka lama,
belajar Tata Krama.Bentuk dan ciri khas bale tajuk, pada umumnya dengan denah
segi lima dengan tiang berjumlah lima buah, ini melambangkan bahwa masyarakat
komunitas Sasak adalah masyarakat yang religius yang menurut keyakinan mereka,
setiap mahluk hidup pasti akan mati, setiap sesuatu yang lahir maka pasti akan
berakhir, pada pondasi bersusun tiga trap menunjukkan rasa syukur atas nikmat
Tuhan, kesabaran jiwa dalam menempuh segala ujian dan ikhlas dalam
pengabdiannya kepada Nusa, Bangsa serta Agama yang dianut.Disamping bentuk dan
designe bangunan rumah adat Sasak seperti tersebut diatas, adapula jenis
bangunan lain seperti Bale “Gunung Rate” dan Bale “Balaq”, Bale Gunung Rate ini
biasanya dibangun oleh masyarakat yang tinggal lereng pegunungan, sedangkan
Bale Balaq ini sesuai dengan namanya balaq artinya bencana, maka untuk
menghindari bencana banjir, maka masyarakat dipesisir pantai membangun rumah
Bale Balaq, bangunan iniberbentuk rumah panggung.