a)
Lokasi
Di Desa Lingkar
Terdapat Sebuah Taman Peninggalan Sejarah Dan Purbakala Yang Cukup Terkenal. Di
Dalamnya Terdapat Dua Jenis Sarana Kegiatan Ritual Keagamaan Dari Dua Kelompok
Masyarakat Dengan Latar Belakang Agama Dan Suku Bangsa Yang Berbeda. Antara Keduanya
Menamakan Peningglan Bersejarah Ini Dengan Sebutan Yang Berbeda Menurut
Kepentingan Masing-Masing. Oleh Karena Itu Dalam Tulisan Ini Hanya Disebut Nama
“ Taman Lingsar “ Saja. Sesuai Dengan Lokasi Keberadaanya.
Taman Ini Terletak Di
Desa Lingsar, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Berjarak Kurang Lebih
7,5 Dari Kota Mataram. Prasarana Jalan Menuju Tempat Ini, Baik Dari Kota
Mataram Maupun Dari Bandar Udara Selaparang, Berupa Jalan Beraspal Yang Cukup
Bagus, Sehingga Mudah Dikjangkau Dengan Segala Jenis Kendaraan.
b)
Ukuran
Dan Luas
Taman Di Sekitar Pura
Dan Kemaliq Lingsar Ini Pada Mulanya Sangat Luas, Tidak Kurang Dari 40.000
Meter Persegi. Beberapa Bagian Dari Taman Ini Sekarang Telah Berubah Menjadi
Lahan Pertanian Dan Kebun, Misalnya Sawah Yang Terletak Di Sebelah Selatan
Telaga Ageng. Bagian Sebelah Barat Kolam Kembar, Dan Kebun Manggis Yang
Terletak Di Sebelah Timur Kelompok Banguna Pura Dan Kemaliq.
Pembenahan Taman Yang
Dilakukan Oleh Dinas Pariwisata Tk.I Nusa Tenggara Barat Dalam Bentuk Pembuatan
Gapura Dan Pagar Keliling Kompleks Kolam Kembar Pada Tahun 1993-1995, Praktis
Mengubah ( Mengurangi ) Luas Taman, Karena Di Sebelah Barta Kolam Kembar Itu
Masih Terdapat Sebuah Kolam Yang Sebenarnya Merupakan Bagian Dari Taman. Tetapi
Dengan Dibuatnya Pagar, Kolam Yang Di Sebelah Barat Itu Kini Menjadi Terletak
Di Luar Taman Dan Kondisinya Menjadi Semakin Kurang Terawat.
Di Dalam Kompleks
Taman Ini Terdapat Dua Kelompok Banguna Sarana Kagiatan Ritual Keagamaan, Yaitu
Sebuah Pura Dan Sebuah Kemaliq. Di Halaman Depan Pura Dan Kemaliq Terdapat
Beberapa Buah Bangunan Terbuka, Yaitu :
1)
Pada
Halaman Ats, Depan Pura Terdapat Dua Buah Bale Jajar Dengan Luas Masing-Masing
56.22 Meter Persegi Dan Satu Buah Bale Bundar, Luasnya 36 Meter Persegi
2)
Pada Halaman
Bawah, Disebut Halaman “ Bencingah “, Di Depan Kemaliq Terdapat Dua Buah
Sekepat Dengan Luas Masing-Masing 4,84 Meter Persegi, Dan Dua Buah Dapur Yang
Luasnya 10,5 Dan 29,7 Meter Persegi.
Kompleks Taman Ini
Dapat Dikelompokkan Menjadi Beberapa Bagian Atau Kelompok Bangunan, Yaitu :
1)
Kompleks
Kolam Kembar ( Bagian Paling Depan )
( 5.585,40 M2 )
2)
Halaman
Taman Bagian Atas ( Di Depan Pura Dan Sekitarnya )
( 9.339,26 M2 )
3)
Halaman “
Bencingah “ ( Bagian Bbawah, Depan Kemaliq ) ( 1.920,00 )
4)
Kelompok
Banguna Pura ( Di Dalam Pagar )
1.179,80 )
5)
Kelompok
Banguna Kemaliq, Termasuk “ Pesiraman “ ( Di Dalam Pagar ) ( 1.320,00 M2 )
6)
Telaga
Ageng ( Kolam Besar, Disebelah Selatan ) ( 6.230,00 M2 )
7)
Pancuran
Sembilan ( Tempat Pemandian Laki-Laki ) Dan Sekitarnya ( 1.089,00 )
_________________________________________
+
Jadi Jumlah
Keseluruhan Nya = 26.663,34 M2
c)
Fungsi
Telah Dijelaskan
Bahwa Di Dalam Kompleks Taman Ini Terdapat Pura Dan Kemaliq. Pura Merupakan
Sarana Kegiatan Ritual Bagi Pemeluk Agama Hindhu, Pada Umumnya Dari Masyarakat
Suku Bali. Kemaliq Merupakan Sarana Kegiatan Ritual Bagi Penganut Ajaran “
Waktu Telu “, Pada Umumnya Dari Suku Sasak. Kedua Kelompok Taman. Antara
Keduanya Dibatasi Oleh Pagar Ttembok. Pada Tembok Pembatas Itu Terdapat Dua
Buah Pintu Penghubung. Secara Visual, Dari Luar Tampak Sebagai Satu Kesatuan.
Dalam Perkembangan
Selanjutnya, Kemaliq Tidak Hanya Digunakan Sebagai Tempat Pemujaan Bagi
Orang-Orang Suku Sasak Saja, Tetapi Banyak Juga Warga Keturunan Cina Yang
Berkunjung Kemai. Mereka Pada Umumnya Penganut Agama Budha Dan Kong Fu Tse.
Dengan Demikian Kelompok Masyarakat Yang Melakukanpemujaan Di Tempat Ini
Menjadi Bertambah. Suatu Bentuk “ Kebhineka Tunggal Ikaan “ Yang Unik.
Dari Penjelasan
Tersebut Ditinjau Dari Sudut Cultural Taman Linggsar Memiliki Keunikan
Tersendiri, Sehingga Keberadaanya Sangat Menarik Bagi Puhak-Pihak Yang
Menangani Bidang Kepariwisataan. Semakin Banyak Pihak Yang Merasa
Berkepentingan, Semakin Banyak Pula Pihak Yang Menaruh Perhatian, Sehingga
Penanganan Taman Lingsar Menjadi Semakin Kompleks Dan Rumit.
Sebagai Sebuah Objek
Peninggalan Sejarah Dan Purbakala Dengan Cirri Yang Khas Dan Unik, Taman
Lingsar Kini Mengemban Berbagai Fungsi Yaitu Sebagai Tempat Kegiatan Ritual
Keagamaan, Sarana Rekreasi Fungsi Social Bagi Masyarakat Di Sekitarnya.
d)
Status
Sesuai Dengan Usia
Maupun Latar Belakang Keberadaannya, Tidak Diragukan Lagi Bahwa Taman Lingsar
Merupakan Objek Benda Cagar Budaya Sebagaimana Dimaksud Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya, Pasal 1.
Bangunan Pura Dan
Kemaliq Lingsar, Sejak Awal Dibangun Hingga Kini Tetap Digunakan Sebagai Sarana
Kegiatan Ritual Keagamaan. Oleh Karena Itu, Status Taman Lingsar Merupakan
Benda Agar Budaya Yang Masih Dimanfatkan Sebagaimana Fungsinya Semula ( Living
Monument ). Status Kepemilikiannya Ada Pada Karma Pura Lingsar. Karena
Kedudukannya Sebagai Benda Cagar Budaya,
Maka Pemeliharaan Dan Pemanfaatannya Di Bawah Pengawasan Departemen Pendidikan
Dan Kebudayaan.
e)
Latar
Belakang Sejarah
Di Lingsar Terdapat
Dua Buah Bangunan Pura Yang Penting, Yaitu Pura Ulon Dan Pura Gaduh. Pura Ulon
Merupakan Bangunan Pura Yang Pertama Di Lingsar, Terletak Di Sebelah Timur
Kompleks Taman Lingsar. Pura Gaduh Terletak Di Dalam Kompleks Taman, Masyarakat
Umum Mengenalnya Dengan Sebutan Pura Lingsar Saja.
Ditinjau Dari Segi
Usia Dan Sejarah Keberadaanya, Pura Di Lingsar Termasuk Bangunan Pura Tertua Di
Lombok. Dibangun Pada Masa Awal Kedatangan Orang Bali Di Lombok Dengan Maksud
Untuk Menetap. Pada Akhir Abad Ke 17. Latar Belakang Sejarah Keberadaannya
Taman Lingsar Tidak Dapat Dipisahkan Dengan Sejarah Taman Mayura Dan Pura Meru
Di Cakranegara, Pura Suranadi Dan Taman Narmada.
Tentang Kemaliq
Lingsar, Beberapa Sumber Menyebutkan Bahwa Sudah Ada Sejak Orang Bali Belum
Datang Di Lombok, Sebagai Tempat Pemujaan Bagi Orang Sasak Penganut “ Waktu
Telu “. Tentang Ajaran “ Waktu Telu “ Itu Sendiri Pada Dasarnya Merupakan
Perpaduan ( Sinkriteisme ) Antara Berbagai Unsure Ajaran Agama Atau
Kepercayaan, Yaitu Hindhu ( Adwanta ), Islam ( Sufisme ) Dan Panteisme. Jadi
Animism Dan Mistik Dapat Diterima Secara Suka Rela Oleh Penduduk Lombok ( Suku
Sasak ) Pada Waktu Itu.
Agama Hindu Yang Di
Bawa Oleh Orang Bali Mengajarkan Bahwa Ajaran Agama Hindhu Tidak Boleh
Dipaksakan Kepada Orang Yang Beragama Lain. Yang Boleh Dipaksakan Oleh Raja (
Bali ) Pada Waktu Itu Hanyalah Bahwa Semua Orang Harus Menyampaikan Terima
Kasih Kepada Tuhan, Menurut Caranya Masing-Masing. Berdasarkan Prinsip Itu Maka
Pembangunan Yang Dilakukan Oleh Raja Anak Agung Made Karangasem Pada Akhir Abad
Ke 19 Di Tempat Yang Sekarang Kita Kenal Sebagai Taman Lingsar ialah :
1)
Bangunan
pura gaduh untuk pemeluk agama Hindhu – Budha dan
2)
Banguna
Kemaliq untuk penganut ajaran Waktu Telu
Kedua bangunan
tersebut boleh digunakan kapan saja menurut keperluan masing-masing. Sekali
dalam setahun diadakan upacara bersama, yaitu perang topat. Pada hari yang sama
mereka melaksanakan kegiatan ritual di tempat masing-maisng ( pura dan kemaliq
) sesuai dengan caranya masing-masing.
Menurut system
pemerintahan bali, raja memegang pemerintahan pengadilan, dan agama. Maka
pembangnuan pura yang terletak di dalam kompleks taman lingsar itupun ditangani
oleh pihak kerajaan. Ketika belanda datang ( berkuasa ), urusan pemerintahan
dan pengadilan diambil alih, sedangkan urusan keagamaan tetap dipegang oleha
raja.
Dengan latar belakang
sejarah yang demikian itulah maka dua buah bangunan sarana kegiatan ritual
keagamaan dari dua kelompok masyarakat yang berbeda berada pada satu kompleks.
Pengelolaan kompleks taman itu hingga kini berada pada satu instansi, yaitu
Krama Pura Lingsar.
Perang topat
diselenggaraka pada bulan ke enam menurut perhitungan kalender bali, atau bulan
ke tujuh menurut kalender sasak biasanya sekitar bulan November / Desember
tarikh masehi. Pada dasarnya, upacara itu dilakukan sebelum menanam padi,
tetapi sudah masuk musim penghujan.
Pokok pikiran awal
diselenggarakannya upacara perang topat ialah sebagai pengungkapan kegembiraan
dan rasa terima kasih kepada Yang Maha Kuasa. Dasar pemikirannya adalah untuk
mengembalikan hasil tanah ( berupa ketupat ) ke asalnya ( tanah di Lingsar ),
hasil itu digunakan sebagai pupuk ( sasak “ bubus lowong “ ) untuk benih padi
yang akan di tanam. Upacara ini dihadiri oleh warga subak ancar. Biaya
penyelenggaraan upacara pun dari subak.
Orang sasak penganut
ajaran “ waktu telu ‘ pada umumnya percaya bahwa di Lingsar itu Raden Mas
Sumilir dari kerajaan medayain ( dekat bertais sekarang ), yang kemudian
ditandai dan dikunjungi, sebagai tempat meminta kesuburan hujan. Lontar
mengenai silsilah raja yang moktah itu dibaca setiap tanggal 12 robi ‘ul awal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar