Kemiskinan adalah suatu konsep
yang relatif, sehingga kemiskinan sangat kontekstual. Agar bantuan menjadi lebih
efektif untuk memperkuat perekonomian orang-orang miskin, pertama-tama haruslah
menemukan di mana akar permasalahan itu terletak, di samping akar
permasalahan itu sendiri (Verhagen, 1996). Mendapatkan akar permasalahan
memerlukan kedisiplinan berpikir sistem.
Intervensi simtomatik bersifat jangka pendek dan memecahkan akar
permasalahan berdampak jangka panjang (Senge, 1996).
Sebagai
salah satu dari daerah di Nusa Tenggara Barat, kabupaten Lombok Timur 2008–2013,
tidak terlepas dari Visi yang telah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Lombok Timur 2005–2025. Di lain pihak, RPJPD
Kabupaten Lombok Timur juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Propinsi NTB 2005-2025 yang telah
ditetapkan dalam Peraturan Daerah NTB Nomor 3 Tahun 2008 dan juga menjadi
bagian tak terpisahkan dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional yang
telah ditetapkan dalam UU Nomor 17 Tahun 2007.
Kabupaten Lombok Timur 2008–2013
tersebut juga tidak terlepas dari keinginan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur
untuk melaksanakan berbagai program dalam rangka mencapai “Millenium
Development Goals (MDG’s) sampai tahun 2015, yaitu :
- Menghapuskan kemiskinan dan kelaparan;
- Menyediakan pelayanan pendidikan dasar untuk seluruh penduduk;
- Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan;
- Menurunkan angka kematian anak;
- Meningkatkan kesehatan ibu;
- Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya;
- Memastikan keberlanjutan lingkungan hidup; serta
- Membangun kemitraan global dalam pembangunan.
Dengan
mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas dan berbagai permasalahan yang sedang
dihadapi serta aspirasi para pemangku kepentingan, maka ditetapkan Visi
Pembangunan Kabupaten Lombok Timur dalam kurun waktu 2008-2013 adalah:
“Mewujudkan Perekonomian Masyarakat
Lombok Timur Yang Adil Dalam Kesejahteraan dan Sejahtera Dalam Keadilan Dalam
Lindungan Allah SWT”.
Masalah-masalah pembangunan di setiap
wilayah yang sedang berkembang bukan semata-mata karena
ketidaksiapan pemerintah dan masyarakat untuk menerima
inovasi, tetapi disebabkan oleh ketidakmampuan perencana program pembangunan wilayah-wilayah
menyesuaikan program-program itu dengan kondisi dari masyarakat yang menjadi client dari
program-program tersebut (Bunch, 1991). Menemukan permasalahan yang
benar, jauh lebih sulit dari pada cara untuk memecahkan permasalahan tersebut
(Sumantri, 1994; Wuisman, 1996).
Banyak orang berpandangan bahwa cara
yang paling gampang untuk memperoleh prekonomian yang sukses pada zaman ini
adalah mempunyai banyak modal. Namun mengingat perekonomian pada masa sebelum
indonesia merdeka yang lebih banyak mengandalkan usaha dan kerja keras. Akan
tetapi budaya dan tradisi seperti ini merupakan pola yang paling jarang terjadi
pada masyarakat saat ini. Penyebabnya karena orang banyak disesatkan oleh
tampang luar dan terkesima dengan tongkrongan para profesional yang hebat.
Orang cenderung melihat unit usaha besar sebagai hal yang kemilau,
bersuar-suar, sementara menganggap usaha kecil sebagai rendahan, “tidak pantas
untuk harkat saya”, kata anak muda kebanyakan. Tidak heran terdapat perubahan
sistimatika dalam menjalankan perekonomian untuk menggapai kesuksesan. Apakah
sistem prekonomian seperti ini bisa untuk memajukan prekonomian masyarakat?
Tentu saja tidak, karena dengan
menganggap usaha kecil merupakan usaha rendahan, orang enggan untuk
melakukannya. Akan tetapi sebenarnya usaha besar dimulai dari usaha kecil dan
kesuksesan berawal dari kegagalan.
Namun melihat di lapangan kebanyakan
anak muda zaman sekarang lebih suka meminta
dengan mengandalkan perekonomian orang tua, sehingga jarang pemuda yang
gigih untuk bekerja. Berbeda sekali dengan anak muda pada masa lalu yang
mempunyai prinsip, “kerja, usaha, oleh kita, hasilnya pastilah untuk kita.”
Pada dasarnya kekuatan ekonomi diperoleh
dari pengorganisasian suatu pengetahuan dan teknologi untuk mengeksplorasi alam
yang dimiliki. Sumber yang tersedia di suatu wilayah akan menentukan kekuatan
ekonomi suatu wilayah tersebut. Tentunya didukung dengan faktor-faktor yang
lain. Kemampuan mengeksplorasi dan memanfaatkan hasilnya untuk memenuhi
kebutuhan rakyat, menggunakan nilai lebihnya untuk memacu perkembangan
teknologi (selain membiayai pendidikan dan kesejahteraan rakyatnya).
Lombok Timur memiliki potensi alam yang
sangat besar, namun sayang kurangya
kemampuan pemerintah untuk mengeksplorasikan sumber daya alam di Lombok Timur
dengan baik dan bijaksana, Sehingga dalam kenyataannya kesejahteraan penduduk
tidak terpenuhi, karena pemerintahlah yang mengatur semuaanya. Sehingga tepat
sekali kalimat “sebelum mengajari rakyat, belajarlah pada rakyat” untuk
petinggi kita yang dewasa itu.
Belajar
dari masa lalu, di mana perekonomian kita masih sangat sulit. Marilah kita
benahi supaya beberapa penyebab umum yang menghambat perkembangan perekonomian
di bawah ini dapat kita tanggulangi bersama.
1.
Biaya modal usaha relatif tinggi
Modal usaha untuk pedagang sandang
dan pangan relatif terbatas. Keterbatasan modal tersebut
menyebabkan pengusaha kecil
(pedagang) meminjam modal kepada rentenir, bank rontok (pelepas uang) dan pengijon. Pengusaha (pedagang) tidak mempunyai akses kepada
lembaga keuangan baik lembaga formal maupun non formal. Lembaga keuangan non
formal pedesaan seperti koperasi usaha
rakyat,
koperasi simpan pinjam, UPKD, LKP dan KUB belum ada. Lembaga keuangan formal
yang memberikan skim kredit kepada pedagang juga belum ada. Keadaan tersebut
dengan terpaksa pengusaha harus mengambil
kredit kepada rentenir dan pelepas uang untuk modal usaha dagangnya meskipun dengan bunga yang tinggi. Akibatnya biaya modal usaha relatif tinggi.
Alternatif pemecahan
masalah adalah membangun kelembagaan non
formal dari kelompok yang sudah ada
dengan kesepakatan atau awiq-awiq sebagai dasar untuk mengikat para pengusaha untuk andil dalam pengembangan modal usaha.
2.Keterbatasan
ketersediaan informasi alternatif para
pengusaha
Secara umum pengusaha banyak yang tidak mempunyai
kemampuan untuk menentukan pilihan usahanya yang menguntungkannya. Hal ini
disebabkan ketersediaan informasi alternatif
kurangnya mutu sumber
daya manusia yang menguntungkan relatif terbatas. Keterbatasan tersebut disebabkan
oleh kemampuan pengusaha, informasi inovasi dan perencanaan pola tanam modal pengusaha yang lemah.
Peluang pengembangan usaha dengan memanfaatkan
sumberdaya alam yang terbatas
melalui penerapan kreativitas belum dimanfaatkan
para pengusaha. Akibatnya strategi ketahanan masa usaha para pengusaha sangat lemah dan relatif singkat.
Alternatif
pemecahannya adalah dengan membangun
lembaga data bisnis pengusaha di pedesaan
sehingga dengan adanya lembaga ini dapat menyiapkan segala informasi yang
dibutuhkan oleh pengusaha.
3.
Biaya transportasi komoditi pengusaha dan input relatif mahal
Biaya pemasaran
hasil komoditi pengusaha relatif mahal.
Tingginya biaya pemasaran ini disebabkan ketersediaan jalan pengusaha yang sangat terbatas. Kondisi jalan desa sebagian besar
rusak, sarana transportasi relatif terbatas. Prasarana dan saranan transportasi
yang terbatas menyebabkan biaya angkut saprodi dan hasil usahadagang relatif mahal. Sementara sarana pasar desa yang dapat
meningkatkan dinamika pemasaran hasil perdagangan belum tersedia.
Sarana produksi di kota kecamatan
Sembalun. Demikian halnya hasil pertanian dari desa Sajang sebagian besar
dijual ke pasar kecamatan Sembalun. Biaya angkut saprodi maupun hasil perindustrian bervariasi antara Rp 5.000 – Rp 10.000/kw tergantung jarak tempuh.
Sedangkan biaya angkut input dari rumah ke pengusaha dan biaya angkut
hasil pengusaha dari lahan ke
rumah rata-rata Rp. 5.000/kw.
Langkah untuk
mengatasi masalah di atas adalah dengan
membangun jalan pengusaha ke desa sehingga
biaya angkut hasil usaha dapat ditekan dan harga jual hasil produksi
dapat ditingkatkan dengan adanya jalan pintas tersebut.
4. Keterbatasan akses lembaga keuangan formal
Kemampuan pengusaha untuk mengakses lembaga keuangan formal sangat terbatas.
Hal ini disebabkan prosedur yang sulit dan keterbatasan sumberdaya yang
dimiliki pengusaha sehingga tidak ada
jaminan yang dapat digunakan sebagai agunan untuk meminjam uang di bank. Selain
itu kepercayaan bank kepada pengusaha kecil relatif rendah.
Hal ini disebabkan adanya sebagian pengusaha yang menganggap
apabila diberi pinjaman pemerintah maka pinjaman tersebut dianggap sebagai
pemberian yang tidak harus dikembalikan.
Untuk mengatasi anggapan peengusaha tersebut adalah
dengan menumbuh-kembangkan inovasi modal sosial. Sedangkan untuk mengatasi
kesulitan mengakses lembaga keuangan formal maka alternatif pemecahannya adalah
dengan membangun kelembagaan non formal di pedesaan.
5.
Ketersediaan informasi harga kurang
Penentuan harga
jual oleh pemilik pengusaha maupun penentuan
harga dari pembeli/pedagang dengan ditaksir berdasarkan waktu pembuatan dan tehniknya, kondisi ini menyebabkan para pengusaha mengalami kerugian. Informasi harga
taksiran tersebut diperoleh
pengusaha dari sesama pengusaha yang sudah pernah menjual ternak maupun dari pedagang
itu sendiri. Informasi harga berdasarkan bobot tehnik
dan tingkat kesulitan pembuatan. Akan tetapi, belum diketahui oleh
sebagian besar konsumen, ia menganggap
bahwa harga tersebut mahal baginya sehingga enggan untuk dibeli dan membuat
beberapa pengusaha mengalami kerugian. Hal ini disebabkan oleh ketersediaan informasi
harga berdasarkan bobot karya sangat kurang dan belum diketahui pengusaha.
Alternatif pemecahan adalah dengan membangun lembaga data bisnis pengusaha di pedesaan sehingga dengan adanya lembaga ini dapat
menyiapkan segala informasi yang dibutuhkan oleh pengusaha.
Dari analisa di atas,
kita khususnya sebagai penduduk Lombok Timur dan generasi Nusa Tenggara Timur
pada umumnya harus mulai sadar terhadap tindakan di masa yang akan datang di
kala kita menjadi seorang pemimpin di masa depan. Apa pentingnya menjadi kaya? Hanya
sebuah kebohongan belaka. Yang didapatkan hanya kesenangan sesaat, sementara
kedepannya akan dihadapkan pada kenyataan hidup yang pahit. Ilmu yang
seharusnya menjadi sebuah berkah, hanya menjadi sampah yang terbuang sia-sia.
Jadi, sebaiknya kita memulai menanamkan sikap jujur, tegas dan adil dalam
kehidupan kita.
Kita harus tetap berdoa, berusaha, dan terus
berharap bahwa perputaran kehidupan akan tetap terjadi laksana bundarnya bola
sepak sehingga keadaan harmonis yang dulu dapat kembali lagi nanti dalam
kehidupan kita khususnya kita sebagai orang Lombok timur. Sehingga visi
kehidupan masyarakat Lombok Timur “Perekonomian Masyarakat Lombok Timur
Yang Adil Dalam Kesejahteraan dan Sejahtera Dalam Keadilan Dalam Lindungan
Allah SWT,” terwujud.
Daftar Pustaka
Hafsah,
Muhammad Jafar.1999.Kemitraan Usaha Konsepsi dan Strategi.Jakarta:Pustaka Sinar
Harapan.
Sumantri,
J.S. 1994. Filsafat Ilmu. Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan,
Jakarta.
Wuisman, J.M. 1996. Asas-Asas
Penelitian Ilmu Sosial. Lembaga Penerbit, Fakultas Ekonomi, Universitas
Indonesia, Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar