Sabtu, 19 Mei 2012

Ayo Optimalkan Sumber Daya Lombok Timur



Kemiskinan adalah suatu konsep yang relatif, sehingga kemiskinan sangat kontekstual. Agar bantuan menjadi lebih efektif untuk memperkuat perekonomian orang-orang miskin, pertama-tama haruslah menemukan di mana akar permasalahan itu terletak, di samping akar permasalahan itu sendiri (Verhagen, 1996). Mendapatkan akar permasalahan memerlukan kedisiplinan berpikir sistem.  Intervensi simtomatik bersifat jangka pendek dan memecahkan akar permasalahan berdampak jangka panjang (Senge, 1996).
Sebagai salah satu dari daerah di Nusa Tenggara Barat, kabupaten Lombok Timur 2008–2013, tidak terlepas dari Visi yang telah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Lombok Timur 2005–2025. Di lain pihak, RPJPD Kabupaten Lombok Timur juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Propinsi NTB 2005-2025 yang telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah NTB Nomor 3 Tahun 2008 dan juga menjadi bagian tak terpisahkan dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional yang telah ditetapkan dalam UU Nomor 17 Tahun 2007.
Kabupaten Lombok Timur 2008–2013 tersebut juga tidak terlepas dari keinginan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur untuk melaksanakan berbagai program dalam rangka mencapai “Millenium Development Goals (MDG’s) sampai tahun 2015, yaitu :
  1. Menghapuskan kemiskinan dan kelaparan;
  2. Menyediakan pelayanan pendidikan dasar untuk seluruh penduduk;
  3. Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan;
  4. Menurunkan angka kematian anak;
  5. Meningkatkan kesehatan ibu;
  6. Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya;
  7. Memastikan keberlanjutan lingkungan hidup; serta
  8. Membangun kemitraan global dalam pembangunan.
Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas dan berbagai permasalahan yang sedang dihadapi serta aspirasi para pemangku kepentingan, maka ditetapkan Visi Pembangunan Kabupaten Lombok Timur dalam kurun waktu 2008-2013 adalah:
“Mewujudkan Perekonomian Masyarakat Lombok Timur Yang Adil Dalam Kesejahteraan dan Sejahtera Dalam Keadilan Dalam Lindungan Allah SWT”.
Masalah-masalah pembangunan di setiap wilayah yang sedang berkembang bukan semata-mata karena ketidaksiapan pemerintah dan masyarakat untuk menerima inovasi, tetapi disebabkan oleh ketidakmampuan perencana program pembangunan wilayah-wilayah menyesuaikan program-program itu dengan kondisi dari masyarakat yang menjadi client dari program-program tersebut (Bunch, 1991).  Menemukan permasalahan yang benar, jauh lebih sulit dari pada cara untuk memecahkan permasalahan tersebut (Sumantri, 1994; Wuisman, 1996).
Banyak orang berpandangan bahwa cara yang paling gampang untuk memperoleh prekonomian yang sukses pada zaman ini adalah mempunyai banyak modal. Namun mengingat perekonomian pada masa sebelum indonesia merdeka yang lebih banyak mengandalkan usaha dan kerja keras. Akan tetapi budaya dan tradisi seperti ini merupakan pola yang paling jarang terjadi pada masyarakat saat ini. Penyebabnya karena orang banyak disesatkan oleh tampang luar dan terkesima dengan tongkrongan para profesional yang hebat. Orang cenderung melihat unit usaha besar sebagai hal yang kemilau, bersuar-suar, sementara menganggap usaha kecil sebagai rendahan, “tidak pantas untuk harkat saya”, kata anak muda kebanyakan. Tidak heran terdapat perubahan sistimatika dalam menjalankan perekonomian untuk menggapai kesuksesan. Apakah sistem prekonomian seperti ini bisa untuk memajukan prekonomian masyarakat?
Tentu saja tidak, karena dengan menganggap usaha kecil merupakan usaha rendahan, orang enggan untuk melakukannya. Akan tetapi sebenarnya usaha besar dimulai dari usaha kecil dan kesuksesan berawal dari kegagalan. 
Namun melihat di lapangan kebanyakan anak muda zaman sekarang lebih suka meminta  dengan mengandalkan perekonomian orang tua, sehingga jarang pemuda yang gigih untuk bekerja. Berbeda sekali dengan anak muda pada masa lalu yang mempunyai prinsip, “kerja, usaha, oleh kita, hasilnya pastilah untuk kita.”
Pada dasarnya kekuatan ekonomi diperoleh dari pengorganisasian suatu pengetahuan dan teknologi untuk mengeksplorasi alam yang dimiliki. Sumber yang tersedia di suatu wilayah akan menentukan kekuatan ekonomi suatu wilayah tersebut. Tentunya didukung dengan faktor-faktor yang lain. Kemampuan mengeksplorasi dan memanfaatkan hasilnya untuk memenuhi kebutuhan rakyat, menggunakan nilai lebihnya untuk memacu perkembangan teknologi (selain membiayai pendidikan dan kesejahteraan rakyatnya).
Lombok Timur memiliki potensi alam yang sangat besar, namun sayang  kurangya kemampuan pemerintah untuk mengeksplorasikan sumber daya alam di Lombok Timur dengan baik dan bijaksana, Sehingga dalam kenyataannya kesejahteraan penduduk tidak terpenuhi, karena pemerintahlah yang mengatur semuaanya. Sehingga tepat sekali kalimat “sebelum mengajari rakyat, belajarlah pada rakyat” untuk petinggi kita yang dewasa itu.
            Belajar dari masa lalu, di mana perekonomian kita masih sangat sulit. Marilah kita benahi supaya beberapa penyebab umum yang menghambat perkembangan perekonomian di bawah ini dapat kita tanggulangi bersama.
1.      Biaya modal usaha relatif tinggi
Modal usaha  untuk pedagang sandang dan pangan  relatif terbatas. Keterbatasan modal tersebut menyebabkan pengusaha kecil (pedagang) meminjam modal kepada rentenir, bank rontok (pelepas uang) dan pengijon. Pengusaha (pedagang) tidak mempunyai akses kepada lembaga keuangan baik lembaga formal maupun non formal. Lembaga keuangan non formal pedesaan seperti koperasi usaha rakyat, koperasi simpan pinjam, UPKD, LKP dan KUB belum ada. Lembaga keuangan formal yang memberikan skim kredit kepada pedagang juga belum ada. Keadaan tersebut dengan terpaksa pengusaha harus mengambil kredit kepada rentenir dan pelepas uang untuk modal usaha dagangnya meskipun dengan bunga yang tinggi.  Akibatnya biaya modal usaha relatif tinggi.
Alternatif pemecahan masalah adalah  membangun kelembagaan non formal dari kelompok yang sudah ada  dengan kesepakatan atau awiq-awiq sebagai dasar untuk mengikat para pengusaha untuk andil dalam pengembangan modal usaha.
2.Keterbatasan ketersediaan informasi alternatif  para pengusaha
Secara umum pengusaha banyak yang tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan pilihan usahanya yang menguntungkannya. Hal ini disebabkan ketersediaan informasi alternatif  kurangnya mutu sumber daya manusia yang menguntungkan relatif terbatas. Keterbatasan tersebut disebabkan oleh  kemampuan pengusaha, informasi inovasi dan perencanaan pola tanam modal pengusaha yang lemah. Peluang pengembangan usaha dengan memanfaatkan sumberdaya alam yang terbatas melalui penerapan kreativitas belum dimanfaatkan para pengusaha. Akibatnya strategi ketahanan masa usaha para pengusaha sangat lemah dan relatif singkat.
Alternatif pemecahannya  adalah dengan membangun lembaga data bisnis pengusaha di pedesaan sehingga dengan adanya lembaga ini dapat menyiapkan segala informasi yang dibutuhkan oleh pengusaha.
3.      Biaya transportasi komoditi pengusaha dan input relatif mahal
Biaya pemasaran hasil komoditi pengusaha relatif mahal. Tingginya biaya pemasaran ini disebabkan ketersediaan jalan pengusaha yang sangat terbatas. Kondisi jalan desa sebagian besar rusak, sarana transportasi relatif terbatas. Prasarana dan saranan transportasi yang terbatas menyebabkan biaya angkut saprodi dan hasil usahadagang relatif mahal. Sementara sarana pasar desa yang dapat meningkatkan dinamika pemasaran hasil perdagangan belum tersedia. Sarana produksi  di kota kecamatan Sembalun. Demikian halnya hasil pertanian dari desa Sajang sebagian besar dijual ke pasar kecamatan Sembalun. Biaya angkut saprodi maupun hasil perindustrian bervariasi antara Rp 5.000 –  Rp 10.000/kw tergantung jarak tempuh. Sedangkan biaya angkut input dari rumah ke pengusaha dan biaya angkut hasil pengusaha dari lahan ke rumah rata-rata Rp. 5.000/kw.
Langkah untuk mengatasi masalah di atas  adalah dengan membangun jalan pengusaha ke desa sehingga biaya angkut hasil usaha  dapat ditekan dan harga jual hasil produksi dapat ditingkatkan dengan adanya jalan pintas tersebut.
4. Keterbatasan akses lembaga keuangan formal
Kemampuan pengusaha untuk mengakses lembaga keuangan formal sangat terbatas. Hal ini disebabkan prosedur yang sulit dan keterbatasan sumberdaya yang dimiliki pengusaha sehingga tidak ada jaminan yang dapat digunakan sebagai agunan untuk meminjam uang di bank. Selain itu kepercayaan bank kepada pengusaha kecil relatif rendah. Hal ini disebabkan adanya sebagian pengusaha yang menganggap apabila diberi pinjaman pemerintah maka pinjaman tersebut dianggap sebagai pemberian yang tidak harus dikembalikan.
Untuk mengatasi anggapan peengusaha tersebut adalah dengan menumbuh-kembangkan inovasi modal sosial. Sedangkan untuk mengatasi kesulitan mengakses lembaga keuangan formal maka alternatif pemecahannya adalah dengan membangun kelembagaan non formal di pedesaan.
5.      Ketersediaan informasi harga kurang
Penentuan harga jual oleh pemilik pengusaha maupun penentuan harga dari pembeli/pedagang dengan ditaksir berdasarkan waktu pembuatan dan tehniknya, kondisi ini menyebabkan para pengusaha mengalami kerugian. Informasi harga taksiran tersebut diperoleh pengusaha dari sesama pengusaha yang sudah pernah menjual ternak maupun dari pedagang itu sendiri. Informasi harga berdasarkan bobot tehnik dan tingkat kesulitan pembuatan. Akan tetapi, belum diketahui oleh sebagian besar konsumen, ia menganggap bahwa harga tersebut mahal baginya sehingga enggan untuk dibeli dan membuat beberapa pengusaha mengalami kerugian. Hal ini disebabkan oleh ketersediaan informasi harga  berdasarkan bobot karya sangat kurang dan belum diketahui pengusaha.
Alternatif pemecahan adalah dengan membangun lembaga data bisnis pengusaha di pedesaan sehingga dengan adanya lembaga ini dapat menyiapkan segala informasi yang dibutuhkan oleh pengusaha.
Dari analisa di atas, kita khususnya sebagai penduduk Lombok Timur dan generasi Nusa Tenggara Timur pada umumnya harus mulai sadar terhadap tindakan di masa yang akan datang di kala kita menjadi seorang pemimpin di masa depan. Apa pentingnya menjadi kaya? Hanya sebuah kebohongan belaka. Yang didapatkan hanya kesenangan sesaat, sementara kedepannya akan dihadapkan pada kenyataan hidup yang pahit. Ilmu yang seharusnya menjadi sebuah berkah, hanya menjadi sampah yang terbuang sia-sia. Jadi, sebaiknya kita memulai menanamkan sikap jujur, tegas dan adil dalam kehidupan kita.
Kita harus tetap berdoa, berusaha, dan terus berharap bahwa perputaran kehidupan akan tetap terjadi laksana bundarnya bola sepak sehingga keadaan harmonis yang dulu dapat kembali lagi nanti dalam kehidupan kita khususnya kita sebagai orang Lombok timur. Sehingga visi kehidupan masyarakat Lombok Timur  “Perekonomian Masyarakat Lombok Timur Yang Adil Dalam Kesejahteraan dan Sejahtera Dalam Keadilan Dalam Lindungan Allah SWT,” terwujud.




Daftar Pustaka
Hafsah, Muhammad Jafar.1999.Kemitraan Usaha Konsepsi dan Strategi.Jakarta:Pustaka Sinar Harapan.
Sumantri, J.S. 1994. Filsafat Ilmu. Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.
Wuisman, J.M. 1996. Asas-Asas Penelitian Ilmu Sosial. Lembaga Penerbit, Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar