1.
Lokasi
Terletak di wilayah kelurahan cakranegara timur, kecamatan cakranegara,
kotamadya mataram. Letaknya bersebrangan jalan dengan kompleks taman mayura,
karena antara keduanya merupakan kesatuan di dalam konsepsi tata letak pusat
pemerintahan kerajaan cakranegara pada waktu itu. Pura meru terletak di sebelah
selatan jalan, sedangkan taman mayura di sebelah utara jalan. Antara keduanya
mempunyai keterkaitan fungsi serta hubungan historis.
2.
Ukuran da luas
a.
Halaman Jero Pura/Jeroan, disebut Utama Mandala
Berukuran 42,50 m x 42,50 m, di
dalamnya terletak bangunan inti pura, berupa bangunan-bangunan yang bersifat
sakral dalam bentuk meru. Bangunan-bangunan lainnya berbentuk padmasari, bale
(balai) dan sanggar-sanggar lainnya sebanyak 29 buah. Tiga buah bangunan
berbentuk meru berderet utara-selatan. Yang terbesar dan tertinggi berada
ditengah, beratap ijuk, dan bersusun sebelas.
Tinggi bangunan 18,26 m, ukuran dasar
5 m x 5 m. Kedua bangunan meru yang berada di sampingnya sama besar, beratap
genting, bersusun sembilan. Tinggi bangunan 15 m, ukuran dasar 4,3 m x 4,3 m.
b.
Halaman Jaba Tengah / Madya Mandala
Berukuran 42,50 m x 42,50 m. Disebelah
timur, di kanan kiri Kori Agung terdapat dua buah bangunan berbentuk panggungan
yang disebut Bale Gong. Bentuk dan ukuran keduanya sama, ditempatkan secara
simetris. Luas masing-masing 47,04 meter persegi, beratap seng, tinggi lebih
kurang 4 m.
c.
Halaman Jaba Pesan dan
Nista Mandala
Pada dinding sebelah utara terdapat
sebuah pintu masuk yang sering di gunakan oleh pengunjung.
d.
Halaman Jabaan
Halaman ini terletak di bagian paling
luar (ujung barat). Pintu utama masuk pura terletak disisi utara bagian ini,
berbentuk gapura “Candi Bentar”.
Halaman jabaan ini berukuran panjang
70 m, dan lebar 42,50 m.
Disudut barat laut
halaman ini terdapat sebuah bangunan kecil dengan lantai yang ditinggikan,
tempat “kulkul” (kentongan), disebut “Bale Kulkul”. Kul-kul berfungsi untuk
memanggil orang untuk berkumpul.
3.
Fungsi
Pura Meru berfungsi sebagai tempat
persembahyangan bagi pemeluk agama Hindu Dharma. Disamping sebagai sarana
kegiatan ritual keagamaan, bila kita kaji latarbelakang dibangunnya pura ini
secara politis berfungsi sebagai sarana pemersatu bagi orang-orang bali yang
ada di lombok, terutama dalam hal menjalankan ajaran agama yang dianutnya.
Sekali dalam setahun di Pura Meru ini akan
diadakan acara pujawali atau usadha, yaitu upacara besar pada bulan purnama
bulan ke-4 menurut perhitungan kalender Bali. Saat itu sebanyak 29 kampung
meramaikan upacara dan membawa alat dari pura pemaksanya masing-masing, datang
di pura meru melakukan upacara pujawali dan menghias sanggar masing-masing.
Upacara pujawali dimulai pada sekitar pukul 16.00. pagi harinya, kira-kira
pukul 10 semua alat upacara pikulnya ( disebut jempana ) harus dibersihkan
secara simbolis dengan upacara, hal ini disebut nyuciang atau memelasti.
Upacara pembersihan ini dilakukan di pancuran air yang terletak di pura kelepug.
Taman mayura. Di sini tampak jelas keterkaitan fungsi antara pura meru dengan
taman mayura. Pada sore harinya barulah diadakan upacara pujawali yang secara
keseluruhan waktu tiga hari maka segala alat sanggah itu dibawa ke kampung, ke
pemaksan masing-masing.
4.
Status
Ditinjau dari segi usia maupun latar belakang keberadaannya, pura
meru di cakranegara ini merupakan “ benda cagar budaya “ sebagaimana dimaksud
dalam undang-undang nomor 5 tahun 1992 tentang benda cagar budaya, pasal 1,
ayat 1, karena disamping factor usianya diatas 50 tahun juga memiliki arti
penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Sebagaimana layaknya “
benda cagar budaya “yang masih difungsikan oleh masyarakat pendukungnya,
pemilikan dan pemanfaatannya ( dalam arti sesuai dengan fungsinya semula ) ada
pada kelompok masyarakat itu sendiri. Pemerintah dalam hal ini departemen
pendidikan dan kebudayaan hanya memberikan bantuan teknis tentang perawatan dan
pemeliharaan terhadap bangunan dan lingkungan, serta upaya-upaya yang bersifat
perlindungan dalam rangka pelestariannya.
5.
Latar belakang sejarah
Menjelang akhir abad
ke-17, kerajaan yang paling terkemuka di Lombok ialah Pejanggik di Lombok
Tengah, dan Selaparang di Lombok Timur. Kedua kerajaan itu semula berhubungan
erat karena pertalian keluarga. Namun, dalam perjalanan waktu, konflik antar
keduanya pun tak dapat terhindarkan akibatnya terjadilah perpecahan. Dalam
situasi yang demikian, terbukalah peluang munculnya pihak ketiga.
Beberapa sumber
menyebutkan bahwa kerajaan Gelgel ( Bali ) telah beberapa kali berupaya
melebarkan sayapnya ke Lombok namun gagal, sampai pada akhirnya Gelgel di
gantikan oleh Karangasem.
Ketika terjadi konflik di
antara para bangsawan Sasak ( Lombok ), patih kerajaan Pejanggik yang bernama
Arya Banjar Getas pergi Karangasem untuk meminta bantuan.Kesempatan inipun
tidak disia-siakan oleh Karangasem.Peperangan demi peperangan pun berlangsung
hingga pada akhirnya Kerajaan Pejanggik,Selaparang, dan kerajaan-kerajaan kecil
lainnya dapt ditaklukkan oleh karangasem.Wilayah Lombok pun terbagi menjadi 2,
yaitu bagian barat milik karangasem sedangkan bagian timur milik Banjar Getas.
Dan beberapa kerajaan kecil, seperti Singasari,Mataram,Pagesangan,Pagutan,dan
Sengkongo.
Kerajaan-kerajaan tersebut
bergabung berdasarkan asas kekeluargaan untuk mencapai kemakmuran dan
kepentingan bersama.Untuk memperkuat persatuan ini raja Singasari mendirikan
Pura Meru di Singasari pada tahun 1744. Di antara kerajaan-kerajaan kecil itu
Singasari menjadi wakil Karangasem(Bali) di Lombok. Oleh karena itu singasari
juga dinamakan Karangasem Sasak. Karena menjadi perebutan pengaruh dan
masing-masing berlomba untuk menjadi “ yang ter….” di pulau Lombok. Perang
saudara pun tak dapat dihindarkan dan perang berakhir pada tahun 1893 dengan
Mataram sebagai pemenangnya pada tahun 1839.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar