Kamis, 31 Mei 2012

Sastra Lisan Suku Sasak


Berbicara tentang sastra tidak akan terlepas dari bahasa, karena bahasa merupakan medianya. Sehingga dalam pembagian unsure-unsur atau aspek-aspek kebudayaan keduanya tidak terpisahkan yaitu antara bahasa dann satra atau kebahasaan dan kesastraan. Sastra merupakan bagian dari kebudayaan karena satra lahir dari hasil daya cipta ,rasa dan karsa manusia yang diwujudkan dalam bentuk susunan bahasa yang indah, baik lisan maupun tulisan. Selain itu penciptaan suatu karya sastra diambil dari pengalaman hidup pada saat karya sastra itu lahir. Dengan demikian,kita akan dapat mengetahui kebiasaan-kebiasaan suatu daerah pada saat tertentu melalui karya sastra.
Adapun pengertian sastra secara baku, sampai saat ini belum ada seorang pakar baik dibidang bahasa maupun sastra yang memberikan batasannya, sehingga dapat dijadikan landasan bagi masyarakat yang akan mempelajari sastra. Pengertian sastra dari para pakar biasanya bersifat umum, seperti menurut kamus Besar bahasa Indoesia, sastra adalah karya tulis yang jika dibandingkan dengan tulisan lain memiliki berbagai cirri keunggulan seeprti keaslian, keartistikan, keindahan dalam ini maupun ungkapannya.
Berdasarkan perkembangannya, sastra dibagi menjadi dua yaitu sastra lama / sastra tradisional dan sastra modern. Khusus tentang sastra lama atau juga disebut dengan sastra lisan adalah suatu karya sastra yang dihasilkan sebelum abad ke 20 dengan cirri-ciri diantaranya :
a)       Lahur dan berkembang dengan tradisi lisan ( oral tradition ) yaitu melalui cerita atau ungkapan dari mulut ke mulut
b)       Pencipta karya sastra lisan bersifat anonym
Melalui cerita atau ungkapan dari mulut ke mulut tidak menutup kemungkinan aka nada penambahan atau pengurangan dalam penyampaiannya, meskipun isi dan pesannya tidak berubah. Sesuai dengan perkembangan pengertahuan setelah manusia mengenal tulisan, amka sudah ada beberapa karya sastra lisan yang sudah ditulis dalam lontar dan kertas, misalnya cerita rakyat dan mantra-mantra.
Karya sastra lisan berdasarkan bentuknya dibagi menjadi dua, yaitu bentuk puisi dan prosa. Karya-karya yang berbentuk puisi diantaranya : mantra, teka-teki, pribahasa dan pantun. Sedagkan karya-karya yang berbentuk prosa yaitu cerita-cerita rakyat seperti : mitos, legenda, sage dan fabel.
Karya-karya lisan tadi, khususnya yang ada di pulau Lombok sampai sekarang keberadaannya sangat menghawatirkan karena hamper-hampir dilupakan masyarakat pendukungnya. Pada masyarakat pendukung, khususnya masyarakat pedesaan tempat karya-karya sastra lisan tersebar, hanya orangg – orang tertentu saja yang tahu, terutama orang-orang yang sudah tua. Mereka ini mendapat kesulitan dalam upaya mewariskannya kepada generasi-generasi dibawahnya, supaya karya-karya sastra lisan yang banyak mengandung filsafat hidup tersebut tetap lestari.
Belum ada kesadaran dari massyarakat untuk melestarikan sastra lisan dikarenakan adanya pergeseran nilai. Sebagian masyarakat beranggapan bahwa karya-karya sastra lisan sudah tidak relevan lagi dengan kehidupan sekarang, sastra lisan dianggap merupakan produk budaya masa lampau yang sudah harus ditinggalkan dan tidak perlu lagi dipelajari.pendapat demikian sebenarnya keliru, sastra lisan merupakan hasil buah pikiran masyarakat masa lampau yang apabila ditelaah secara mendalam mengandung nilai-nilai budaya yang tinggi. Dalam ungkapan-ungkapan tradisional seeprti peribahasa dan teka-teki misalnya : banyak menggunakan arti kiasan di dalam pengungkpannya yang menggambarkan pola pikir masyarakat pada waktu itu. Begitu pula dalam cerita-cerita rakyat yang walaupun merupakan suatu cerita fiksi, tetapi hendaknya jagan dipandang dari segi ke afisiennya semata, melainkan yang lebih utama adalah maksud yang terkandung dalam ceritanya. Sebagai contoh cerita legenda, yaitu cerita yang berhubungan dengan asal-usul suatu tempat. Apabila sudah menjadi karya sastra berupa cerita, maka tidak akan bias terlepas dari keefisiennya karena ceritanya sudah dipoles bahkan ditambah-tambah supaya lebih menarik. Oleh karena itu maka harus diperhatikan adanya nilai-nilai budaya yang terkandung dalam cerita tersebut karena setiap pengarang atau penyair mempunyai ide-ide tertentu yang ingin disampaikan melalui karya-karyanya.
Berikut ini beberapa contoh “ Sesenggak ( Pribahasa ) “ Suku Sasak :
SESENGGAK
ARTINYA
Aiq nyereng, Tanjung tilah, Empaq bau
Orang bersifatt adil
Alus-alus tain jaran

Sifat seseorang yang terlihat baik hanya diluar saja tetapi sebenarnya peraingainya sangat buruk
Bantel tolang nde araq isi
Mempertahankan sesuatu yang tidak berguna yang tidak memberikan keuntungan sedikitpun
Bau besi bau asaq
Hidup saling menolong itu dibutuhkan untuk meraih harapan
Begantung leq bulu seurat
Seseorang yang menggantungkan hidupnya pada orang yang tidak diharapkan pertolongannya
Araq pendet araq api
Ada maksud yang tersembunyi /segala sesuatu pasti ada sebabnya
Buaq ate kembang mate
Tumpuhan kasih sayang
Betongkem jarang-jarang
Pura-pura tidak tau
Dua-dua mangan parut
Mendapat penghasilan dari beberapa tempat
Jaoq gumi kanca langit
Tidak sesuai antara harapan dan kenyataan
Kedung angen wah sede
Keadaan yang sulit diperbaiki lagi karena sudah salah sejak permulaan
Sakit maik bareng idap
Sama-sama bertanggung jawab dalam susah maupun senang
Anak iwoq batu batang
Tidak punya sanak saudara
Araq kalen ujan araq kalen panas
Susah senang datang silih berganti
Bani untal kandik lantong dende
Orang yang mau mengakui kesalahannya
Berat mesang bareng idap
Berat atau ringan dijinjing bersama
Bukaq lokeng senggitan isi
Melakukan sesuatu dengan terbuka
Cengik maraq komak seong sepuq
Orang yang tidak pernah mau susah
Dating maraq aiq belabor, nyedi maraq aiq nitik
Penyakit yang datang secara tiba-tiba namun sembuhnya lama sekali
Ndearaq Guntur,selung-selung dating ujan
Suatu peristiwa yang datang secara tiba-tiba
Gumi galuh tepinaq sompek
Kesulitan timbul karena perbuatan sendiri
Lalang gunung masih saling tanggaq
Orang yang slalu ingat walau berjauhan
Leto late maraq bengan
Tak pernah ada penyelesaian
Maraq bobok surak diriq
Selalu membicarakan aib keluarganya sendiri
Maraq saling rebut kereng robek
Memperselisihkan sesuatu yang tidak bermanfaat
Momot meco maraq gansing meliset
Tidak punya inisiatif, hanya menunggu perintah saja
Maraq kelampan gansing meripit
Tidak pernah betah bekerja
Kepeng satus jari satak
Perbuatan curang/suka melebih-lebihkan
Joman tutung jari penyampat
Asal bekerja/jadi saja
Maraq kelampan jaran megat
Tidak jelas tujuan pasti
Peteng dendeng diwu-dawi
Tidak punya pengertian/toleransi
Siq dua jari telu
Suka melebih-lebihkan sesuatu
Sintung jari peneguq ate
Untuk menjadi pegangan
Sipat pat,lamun endeq tepatok endekna tame
Orang yang mau bekerja bila mau diperintah
Timbaq aiq sumur siq timbaq bedah
Melakukan pekerjaan yang sia-sia
Ujat besebok dalem kerongkong
Musih yang sulit kelihatan
Wawar rapet baruq ngendukang
Karena seddikit kesalahan akhirnya tak berhasil
Idah, maraq batu maen ciwe
Pekerjaan yang tak kunjung selesai
Berikut ini beberapa contoh “ Lelakaq ( Pantun) “ Suku Sasak
CONTOH LELAKAQ NASEHAT
Buak limau dari sekaroh
Mengail ikan di pinggir kali
Rajin-rajin bersekolah
Agar jangan menyesal nanti
Ape awis leq lendang mujur
Awis pandan leq bebandeng
Ape tangis leq dalem kubur
Tangis amal ndeq bau dateng
CONTOH LELAKAQ ANAK-ANAK
Bau paku leq sedin oloh
Jari kandoq mangan tengari
Pacu-pacu pade sekolah
Jari sangunte lemaq mudi
Impan bembeq siq gedeng waru
Pelembah polak leq desa Pujut
Leman kodeq te pede pacu
Uahte toaq jari penurut
CONTOH LELAKAQ BEBAJANGAN
Kayu waru jari apit
Buak are si buek tumpah
Mun bebalu jari penyakit
Selung dedare bangku susah
Talet bunga arik leq bawaq bila
Taliq paku arik siq penyalin
Munne meni arik si idap rase
Serian aku bae arik sitekawin
CONTOH LELAKAQ AGAMA
Bubut kereta dese lenek
Anak gagak kembang sandat
Idup mate urusan nenek
Endak lupak bace syahadat
Mun belacu tepiak selane
Bunge putek masih laloq kuncup
Silaq tepacu turut pituah agame
Sampunte si pade masih idup
CONTOH LELAKAQ BEBONYEAN
Mun belauk sikut bedaye
Talet gadung dendeq-dendeq
Munku mauk si pade waye
Tengkep gandrung gorok bembek
Lolon renggak jari tali
Lolon belimbing sedin langan
Lamun erak sejari-jari
Pokok ngibing jangke bian

Tembang sasak memiliki watak antara lain :
1
Pangkur
Wataknya : perang, dialog social dan polemik
2
Asmarandana
Wataknya : percintaan atau patah hati
3
Maskumambang
Wataknya : sedih atau duka lara
4
Sinom
Wataknya : nasihat
5
Dangdang
Wataknya : suka cita atau senang

Contoh Tembang Dalam Upacara Adat Sorong Serah Aji Krama
alan dane senamian gelis piatur dawek titian puniki, inggih titang puniki sekadi jero pemabayun kepadikayung antuk dane kepala desa dasan lekong L. rapiun kaping kaling antuk dane kadus gubuk bangket amaq sopiantiping katri antuk kang handowe karye, sadiye nagturang" ajikrama" dedare …………?
Yen agung sane arte pacing katur  : aji karma : 66 tampak lemah, 33 karangkung, olen-olen : 33, sesirah / mekadi otak bebeli : sepatutna salin dede : sepatutna, pejarunaman : 10000/selaksa, mesareng malih kaliyan : krame dese : 1000, kor jiwa : 5000 sebas kute : 2500, keboturu: sepatutna / keris pemenggel Jinnah : 10000 / selaksa
Yen ketapakan dende sekadi sampun kebaos kariri hinggih……
Dende memaling / merarik
Singgih…..sampuniki arte sipacug katur sekadi lambung adat hingkang tinilar dining para leluhur sasak ring kine, moge-moge pelungguh ragandane hanampi. Nunas keruntuhan pengandike rage dawek !
Berikut ini beberapa legenda yang berkembang di suku sasak :
a)       Putrid Mandalika / putri nyale
b)       Kemelaq Mangan
c)        Cupak Gerantang
d)       Doyan Neda
e)       Putri Rengganis

2 komentar: