Kamis, 31 Mei 2012

Makam Seriwe

1)       Lokasi
Situs makam seriwe terletak di atas sebuah bukit kecil, di dusun seriwe, desa pejanggik, kecamatan praya, kabupaten tengah lebih kurang 37 km dari mataram. Bukit tempat makam berada di sebut juga bukiat seriwe. Terletak di sebelah jalan yang menghubungkan kota praya ( ibukota kabupaten Lombok tengah ), dengan kota-kota kecamatan lain di bagian selatan kabupaten Lombok timur. Letak makam yang demikian menyebabkan lokasi tersebut mudah dijangkau dengan segala jenis kendaraan.

2)       Tinjauan Sejarah dan Arkeologis

Oleh masyarakat setempat, makam seriwa dikenal sebagai makam datu pejanggik. Sistem pemakaman diatas bukit merupakan tradisi yang sudah berlangsung sejak zaman Hindu, hingga setelah masuknya agama islam. Tradisi ini didasari oleh suatu konsepsi pemikiran bahwa pada tempat-tempat yang tinggi  (seperti di puncak bukit) adalah tempat yanag suci, dan di situlah tempat bersemayan roh nenek moyang dan para dewa. Dengan memakamkan seorang tokoh ” tempat yang tinggi” juga dapat diartikan sebagai bentuk penghormatan dari yang masih hidup kepada yang sudah meninggal ( nenek moyang ).

Di Lombok terdapat beberapa buah makam kuno yang letaknya di atas bukit, seperti :
a)       Makam Wali Nyatok, dekat desa rembitan, kecamatan pujut, kabupaten Lombok tengah
b)       Makam batu layar, wilayah kecamatan gunungsari, Lombok barat
c)        Makam buaq bakang, di desa perigi, kecamatan pringgabaya Lombok timur

Di atas bukit Seriwa terdapat 3 deretan makam, berjajar arah timur barat. Makam-makam pertama terletak pada deretan paling utara, atau deret ketiga dari selatan, yang sebenarnya tepat berada di tengah-tengah(puncak) bukit. Pada ujung barat deretan ini terdapat sebuah makam yang diberi cungkup. Makam inilah yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai makam Datu Pejanggik yaitu Pemban Aji.

Pejanggik adalah satu diantara “kerajaan” yang dianggap tua di Lombok. Sayang,sumber-sumber yang dapat di pertanggung jawabkan menurut disiplin ilmu sejarah tentang hal ini kurang, sehingga kapan kerajaan Pejanggik ini muncul belum dapat di tentukan. Satu-satunya sumber yang ada hanyalah sumber local, berupa babad. Sebagaimana kita ketahui, sumber-sumber yang demikian mengandung banyak kelemahan bila hendak digunakan sebagai dasar rekonstruksi sejarah.

Menurut para ahli,  “kerajaan-kerajaan” kecil seperti Pejanggik ini banyak jumlahnya di Lombok. Masing-masing di pimpin oleh seorang yang bergelar “datu”. Di dalam lontar “ babad selaparang” di sebutkan bahwa salah seorang “datu” pejanggik bernama Prabu Dewa Kusuma, sedangkan sumber lain menyebutkan nama Dewa Mas Panji. Sumber-sumber lokal menyebutkan bahwa Raja-raja pejanggik ini memakai gelar “dat”, “Raja”, “Pemban Aji” dan sebagainya. Gelar-gelar semacam ini sering di hubungkan dengan kedudukan “Raja” dan lebih banyak mencerminkan unsur Lokalnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar