1)
Lokasi
Situs makam seriwe terletak di
atas sebuah bukit kecil, di dusun seriwe, desa pejanggik, kecamatan praya,
kabupaten tengah lebih kurang 37 km dari mataram. Bukit tempat makam berada di
sebut juga bukiat seriwe. Terletak di sebelah jalan yang menghubungkan kota
praya ( ibukota kabupaten Lombok tengah ), dengan kota-kota kecamatan lain di
bagian selatan kabupaten Lombok timur. Letak makam yang demikian menyebabkan
lokasi tersebut mudah dijangkau dengan segala jenis kendaraan.
2)
Tinjauan Sejarah dan
Arkeologis
Oleh
masyarakat setempat, makam seriwa dikenal sebagai makam datu pejanggik. Sistem
pemakaman diatas bukit merupakan tradisi yang sudah berlangsung sejak zaman
Hindu, hingga setelah masuknya agama islam. Tradisi ini didasari oleh suatu
konsepsi pemikiran bahwa pada tempat-tempat yang tinggi (seperti di puncak bukit) adalah tempat yanag
suci, dan di situlah tempat bersemayan roh nenek moyang dan para dewa. Dengan
memakamkan seorang tokoh ” tempat yang tinggi” juga dapat diartikan sebagai
bentuk penghormatan dari yang masih hidup kepada yang sudah meninggal ( nenek
moyang ).
Di Lombok terdapat beberapa buah makam kuno yang
letaknya di atas bukit, seperti :
a)
Makam Wali Nyatok,
dekat desa rembitan, kecamatan pujut, kabupaten Lombok tengah
b)
Makam batu layar,
wilayah kecamatan gunungsari, Lombok barat
c)
Makam buaq bakang, di
desa perigi, kecamatan pringgabaya Lombok timur
Di atas
bukit Seriwa terdapat 3 deretan makam, berjajar arah timur barat. Makam-makam
pertama terletak pada deretan paling utara, atau deret ketiga dari selatan,
yang sebenarnya tepat berada di tengah-tengah(puncak) bukit. Pada ujung barat
deretan ini terdapat sebuah makam yang diberi cungkup. Makam inilah yang oleh
masyarakat setempat dikenal sebagai makam Datu Pejanggik yaitu Pemban Aji.
Pejanggik
adalah satu diantara “kerajaan” yang dianggap tua di Lombok.
Sayang,sumber-sumber yang dapat di pertanggung jawabkan menurut disiplin ilmu
sejarah tentang hal ini kurang, sehingga kapan kerajaan Pejanggik ini muncul
belum dapat di tentukan. Satu-satunya sumber
yang ada hanyalah sumber local, berupa babad. Sebagaimana kita ketahui,
sumber-sumber yang demikian mengandung banyak kelemahan bila hendak digunakan
sebagai dasar rekonstruksi sejarah.
Menurut para
ahli, “kerajaan-kerajaan” kecil seperti
Pejanggik ini banyak jumlahnya di Lombok. Masing-masing di pimpin oleh seorang
yang bergelar “datu”. Di dalam lontar “ babad selaparang” di sebutkan bahwa
salah seorang “datu” pejanggik bernama Prabu Dewa Kusuma, sedangkan sumber lain
menyebutkan nama Dewa Mas Panji. Sumber-sumber lokal menyebutkan bahwa
Raja-raja pejanggik ini memakai gelar “dat”, “Raja”, “Pemban Aji” dan
sebagainya. Gelar-gelar semacam ini sering di hubungkan dengan kedudukan “Raja”
dan lebih banyak mencerminkan unsur Lokalnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar